Jangan-jangan kita sebenarnya tdk mencintai Tuhan. Kt hanya mencintai apa yang bisa Tuhan berikan.
Kt datang kepada-Nya membawa banyak kepentingan. Ingin sehat, ingin kaya, ingin naik jabatan, ingin usaha lancar, ingin anak berhasil, ingin rumah tangga tenang, ingin utang segera lunas. Ketika semua jalan terasa buntu dan ikhtiar manusia seperti tidak lagi mempunyai celah, kita mulai rajin mengetuk pintu langit.
Tahajud diperpanjang. Dhuha dirutinkan. Istighfar diperbanyak. Sedekah ditingkatkan. Surah-surah tertentu dibaca berulang-ulang. Kita menjadi lebih tekun, lebih khusyuk, dan lebih sering menyebut nama Allah daripada hari-hari biasa.
Semuanya baik. Tidak ada yang keliru dengan meminta kepada Allah. Bahkan doa adalah pengakuan paling jujur bahwa manusia lemah dan membutuhkan-Nya. Al-Qur’an sendiri mengajarkan manusia untuk memohon, berharap, dan menggantungkan diri kepada Allah. Seorang hamba memang tidak pernah terlalu tinggi untuk meminta kepada Tuhannya.
Masalahnya bukann pada meminta.
Masalahnya muncul ketika seluruh hubungan kita dengan Tuhan hanya berlangsung selama kita membutuhkan sesuatu. Allah terasa dekat ketika ada masalah, tetapi kembali jauh ketika masalah itu selesai. Ibadah menjadi sangat penting selama ada sesuatu yang sedang diperjuangkan, lalu perlahan kehilangan daya tarik setelah keinginan tercapai.
Setelah rezeki datang, tahajud mulai berkurang.
Setelah penyakit sembuh, doa tidak lagi sepanjang dahulu.
Setelah jabatan diperoleh, sujud terasa semakin singkat.
Setelah persoalan selesai, Tuhan perlahan-lahan kembali diletakkan di sudut kehidupan.
Kita seperti mengenal-Nya hanya pada musim kesulitan. Saat hidup tenang, kita merasa cukup dengan diri sendiri. Ketika hidup mulai berantakan, barulah kita mencari-Nya dengan sungguh-sungguh.
Kalau demikian, siapa sebenarnya yang kita cintai: Tuhan atau pemberian-Nya?
Pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Sebab kita sering mengira bahwa kedekatan kepada Allah selalu identik dengan banyaknya permintaan yang kita panjatkan. Padahal bisa jadi yang sedang kita rindukan bukan Allah, melainkan kesehatan, kekayaan, jabatan, keberhasilan, atau ketenangan yang kita harapkan datang dari-Nya.
Untuk menjawab pertanyaan itu, sesekali kita perlu “nyantri” kepada seorang perempuan dari Basrah yang hidup berabad-abad lalu.
Namanya Rabi‘ah al-‘Adawiyah.
Ia tidak mengajarkan cara memperoleh kekuasaan. Tidak menawarkan formula memperbanyak kekayaan. Tidak pula dikenal karena menyusun teori politik atau strategi memenangkan persaingan.
Ia justru membawa manusia masuk ke wilayah yang jauh lebih sunyi: memeriksa alasan paling dalam mengapa seseorang beribadah kepada Tuhan.
Ia datang membawa sesuatu yang kelihatannya sederhana, tetapi sangat sulit dilakukan: mencintai Tuhan tanpa kepentingan.
Ketika Tuhan Menjadi Bagian dari Transaksi
Manusia modern tumbuh di tengah transaksi. Hampir setiap hari kita berhubungan dengan pertukaran: waktu ditukar dengan upah, modal ditukar dengan keuntungan, pengetahuan ditukar dengan peluang, bahkan perhatian sering ditukar dengan pengakuan.
Kita bekerja karena menginginkan gaji. Menabung karena menginginkan keamanan. Berinvestasi karena berharap keuntungan. Belajar agar memperoleh ijazah. Berjejaring agar mendapatkan kesempatan.
Ada sebab, ada akibat. Ada modal, ada keuntungan. Ada usaha, ada hasil.
Logika semacam ini diperlukan dalam kehidupan. Tanpa perhitungan, banyak urusan dunia tidak akan berjalan dengan baik. Persoalannya, kita kadang membawa logika yang sama ke hadapan Tuhan, lalu tanpa sadar menjadikan ibadah seperti sebuah investasi spiritual yang harus menghasilkan keuntungan tertentu.
Sedekah seratus ribu rupiah lalu diam-diam menunggu satu juta rupiah kembali.
Salat dhuha dilakukan karena berharap usaha lebih ramai.
Tahajud dikerjakan karena sedang mengincar jabatan.
Istighfar diperbanyak karena proyek belum berhasil.
Zikir dibaca dengan hitungan tertentu, lalu hati sibuk menunggu kapan hasilnya datang.
Lalu bahasa agama perlahan berubah menjadi bahasa investasi.
“Kalau membaca ini, manfaatnya apa?”
“Kalau zikir sekian kali, rezekinya bagaimana?”
“Kalau sedekah sekian, kembali berapa kali lipat?”
Pertanyaan seperti itu tidak selalu salah. Agama memang mengajarkan adanya pahala, keberkahan, pertolongan, dan balasan atas kebaikan. Al-Qur’an juga mengajarkan manusia meminta kebaikan dunia dan akhirat. Seorang hamba boleh berharap agar ibadahnya menjadi sebab datangnya rahmat Allah.
Tetapi ada jarak yang sangat tipis antara berharap kepada Allah dan menjadikan Allah sekadar sarana untuk memperoleh sesuatu. Pada titik tertentu, kita perlu bertanya: apakah kita beribadah karena Allah, atau karena ada sesuatu yang kita harapkan dari Allah?
Rabi‘ah mengajak kita berjalan lebih jauh.
Ia mengajak manusia memeriksa lapisan paling dalam dari cinta. Bukan sekadar apakah kita salat, berzikir, bersedekah, dan berdoa, tetapi mengapa semua itu kita lakukan. Sebab dua orang dapat melakukan ibadah yang sama, tetapi membawa hati dan tujuan yang sama sekali berbeda.
Lalu bagaimana jika suatu hari Tuhan tidak memberikan apa yang kita inginkan?
Apakah salat masih terasa perlu?
Apakah zikir masih terasa indah?
Apakah tahajud masih layak dilakukan ketika tidak ada lagi urusan yang sedang kita kejar?
Apakah sedekah masih terasa bermakna jika tidak segera kembali dalam bentuk rezeki yang lebih banyak?
Apakah kita masih akan berkata bahwa Allah Maha Baik ketika kenyataan tidak berjalan sesuai dengan doa kita?
Di titik inilah cinta diuji.
Sebab mencintai seseorang ketika ia memenuhi seluruh keinginan kita bukanlah perkara sulit.
Yang sulit adalah tetap mencintainya ketika keinginan kita tidak dipenuhi.
Pak Kiyai Hannani
Comments
Post a Comment