Anggap Saja Kita yang Salah Dengar
Ada fase dalam hidup saya ketika perhatian terhadap bacaan al-Qur'an begitu tajam. Saya tahu, salah harakat bisa mengubah makna. Maka setiap kali ada yang membaca, telinga saya siaga, bukan untuk tenggelam dalam makna, tapi untuk mengaudit tajwid dan makhraj. Suatu maghrib, saya shalat di masjid tanpa imam tetap. Seorang bapak berdiri, dan shalat pun dimulai. Bacaan imam tidak sempurna. Ada yang terasa janggal di telinga saya. Sepanjang menjadi makmum, saya fokus pada "kesalahan" imam, bukan pada Allah atau makna ayat. Setelah salam, saya langsung ulangi shalat di pojok masjid. Di rumah, dengan sedikit rasa bangga, saya ceritakan pada guru kami sambil menirukan bacaan imam tadi. Guru hanya tersenyum dan berkata, "Lain kali, nggak usah kamu ulangi shalat kamu." "Salah bacaannya, Abah... shalatnya nggak sah." Beliau menjawab pelan, "Anggap saja kamu yang salah dengar tadi." Jawaban itu sederhana, namun menampar ego saya. Sejak itu saya be...