Ada sesuatu yang diam-diam membentuk cara kita melihat dunia: sudut pandang. Ia tidak selalu kita sadari keberadaannya, tetapi bekerja seperti lensa yang menentukan apa yang tampak jelas, apa yang tampak kabur, dan apa yang sama sekali tidak terlihat. Melalui sudut pandang itulah kita menilai benar dan salah, adil dan tidak adil, baik dan buruk. Padahal sering kali kita lupa bahwa apa yang kita sebut sebagai “kenyataan” tidak selalu berdiri sendiri. Ia hampir selalu hadir bersama cara kita memandangnya. Satu peristiwa yang sama dapat melahirkan makna yang berbeda ketika dilihat dari tempat yang berbeda. Seekor rusa, misalnya, adalah ancaman bagi rumput karena ia memakannya. Namun bagi singa, rusa justru menjadi sumber kehidupan. Bagi rusa sendiri, singa adalah bahaya. Peristiwa yang sama, tetapi maknanya berubah. Bukan karena kenyataan yang berubah, melainkan karena posisi yang melahirkan penilaian itu berbeda. Begitulah dunia sering kali bekerja. Yang kita sebut sebagai kebena...