Posts

Showing posts from April, 2026

Musafir

Malam ini, kembali saya diingatkan tentang makna bersyukur yang sesungguhnya. Bukan sekadar ucapan, melainkan peristiwa yang menyentuh relung hati paling dalam. Setelah seharian menjalani aktivitas yang cukup padat bersama Pak Rektor, tubuh ini terasa lelah. Saya pun kembali ke masjid tempat di mana saya tinggal. Sesampainya di masjid, saya menemukan seorang musafir. Beliau duduk sendirian dengan wajah yang tampak lelah namun tetap tegar. Teman-teman yang ada di sekitar mulai bertanya dengan ramah,  dari mana pak?" Jawabannya membuat saya tertegun. "Saya berasal dari Makassar... jalan kaki sampai ke Parepare." Jalan kaki. Makassar ke Parepare. Jarak yang bahkan dengan kendaraan pun memakan waktu berjam-jam. Untuk apa ke Parepare?" Lagi-lagi jawabannya sederhana namun menusuk kalbu: "Saya mencari pekerjaan." Seketika hati saya berbisik, "Luar biasa... perjuangannya untuk mencari pekerjaan. Demi menyambung hidup, beliau rela menempuh ratusan kilometer d...

Tia

Namanya Tia. Salah satu anak mengaji yang saya ajar. Kesehariannya bisa dibilang lumayan nakal, bandel, dan seringkali sulit diatur. Saya seringkali harus menghela napas panjang menghadapi tingkahnya. Dari tidak mau diam saat mengaji, hingga kerap memancing teman-temannya untuk bermain.  Namun, pernah suatu ketika, ibu saya sakit. Cukup parah sehingga saya harus segera pulang ke kampung. Sebelum berangkat, saya pamitan pada anak-anak mengaji. Bukan hanya sekadar pamit, tapi juga meminta doa. Saya bilang pada mereka,  "Tolong doakan ya, semoga ibu saya lekas sembuh." Mereka pun mengangguk, ada yang mengucapkan  "aamiin"  dengan polosnya. Tapi apa yang terjadi selanjutnya sungguh di luar dugaan. Tia, anak yang biasa saya tegur karena nakal itu, tiba-tiba mendekati saya. Ia meraih tangan saya, lalu menciumnya. Kemudian, dengan gerak cepat, ia menyelipkan sesuatu ke telapak tangan saya. Selembar uang dua puluh ribuan. Saya terperangah. "Belikan bensin, Ustaz,"...

Takdir

Hidup itu tidak selalu tentang menang atau kalah, tapi tentang apa yang kita pelajari di setiap prosesnya. Begitu pula dengan takdir. Takdir bukanlah garis finis yang tinggal kita tunggu, melainkan rangkaian perjalanan yang harus kita jalani dengan kesungguhan. Dalam mengusahakan takdir, ada hal yang menguatkan, ada juga yang menguji, dan keduanya sama-sama membentuk cara kita melihat dunia. Saat usaha membuahkan hasil, kita belajar bersyukur. Saat usaha menemui kegagalan, kita belajar sabar dan tidak mudah menyerah. Keduanya adalah bagian utuh dari takdir itu sendiri. Takdir tidak akan pernah terwujud hanya dengan pasrah tanpa gerak. Ia hadir karena doa yang dipanjatkan, karena langkah kaki yang tak lelah melangkah, dan karena hati yang terus belajar dari setiap jatuh bangun. Pada akhirnya, yang paling berharga bukan hasilnya, melainkan pemahaman yang membuat kita jadi lebih bijak dalam melangkah. Memahami bahwa takdir adalah proses yang diusahakan mengajarkan kita untuk tidak terburu...

Sudut Pandang

 Ada cara pandang yang diam-diam membentuk seluruh keyakinan kita. Ia tidak terlihat, tetapi menentukan siapa yang kita anggap benar, siapa yang kita anggap salah. Ia bekerja dalam senyap, meresap ke dalam setiap pertimbangan kita, seolah-olah itulah suara akal sehat semata. Padahal, dari tempat yang berbeda, satu peristiwa yang sama persis bisa memiliki makna yang bertolak belakang. Ambillah contoh sederhana di padang savana: bagi seekor rumput, rusa adalah ancaman yang datang setiap hari, menggerogoti daun-daun muda, mengancam kelangsungan hidupnya. Namun, bagi rumput yang sama, singa justru dianggap penjagakarena singa memangsa rusa, memberi ruang bagi rumput untuk tumbuh kembali. Bukan karena kenyataan berubah, tetapi karena posisi yang berbeda melahirkan penilaian yang berbeda. Tidak ada sudut pandang yang netral; setiap kita berdiri di suatu tempat, dan tempat itu mewarnai segala yang kita lihat. Di kehidupan sehari-hari, hal ini terjadi tanpa kita sadari.  Kita sering m...