Skip to main content

Musafir

Malam ini, kembali saya diingatkan tentang makna bersyukur yang sesungguhnya. Bukan sekadar ucapan, melainkan peristiwa yang menyentuh relung hati paling dalam.

Setelah seharian menjalani aktivitas yang cukup padat bersama Pak Rektor, tubuh ini terasa lelah. Saya pun kembali ke masjid tempat di mana saya tinggal.

Sesampainya di masjid, saya menemukan seorang musafir. Beliau duduk sendirian dengan wajah yang tampak lelah namun tetap tegar. Teman-teman yang ada di sekitar mulai bertanya dengan ramah,  dari mana pak?"

Jawabannya membuat saya tertegun. "Saya berasal dari Makassar... jalan kaki sampai ke Parepare."

Jalan kaki. Makassar ke Parepare. Jarak yang bahkan dengan kendaraan pun memakan waktu berjam-jam. Untuk apa ke Parepare?"

Lagi-lagi jawabannya sederhana namun menusuk kalbu: "Saya mencari pekerjaan."

Seketika hati saya berbisik, "Luar biasa... perjuangannya untuk mencari pekerjaan. Demi menyambung hidup, beliau rela menempuh ratusan kilometer dengan kaki yang mungkin sudah melepuh."

Saya masuk ke dalam kamar yang disediakan untuk pegawai syara', mencoba melepas penat. Namun, bayangan musafir itu tak lepas dari pikiran. Setelah beberapa saat, rasa penasaran dan iba membawa saya kembali keluar untuk melihat keadaan beliau.

Air mata rasanya tak tertahankan.

Beliau sudah terbaring tidur di bale-bale depan masjid. Tanpa kasur empuk. Tanpa selimut tebal. Hanya bertilamkan kerasnya kayu dan berselimutkan dinginnya angin malam. Tubuhnya yang penuh perjuangan itu kini terlelap dalam kepasrahan.

Dan dalam hati, saya bertanya pada diri sendiri:

"Lihatlah itu. Bandingkan dengan dirimu sekarang. Masih sering merasa paling menderita?"

Malam ini, saya kembali belajar tentang bersyukur. Saya yang tinggal di masjid, yang setidaknya masih memiliki kamar meski sederhana, masih memiliki tempat berteduh dan teman-teman di sekitar. Sementara musafir itu beliau bahkan tak punya kepastian di mana akan bermalam setelah hari ini.

Ia tidak mengeluh. Ia hanya berjalan, berjuang, dan bertawakal.

Sementara saya, dengan segala keterbatasan namun juga segala kemudahan yang tersisa, masih kerap merasa lelah, masih kerap mengeluh tentang hal-hal kecil. Malam ini, air mata mengajarkanku satu hal: rasa menderita itu pilihan. Tapi bersyukur adalah keberanian untuk melihat betapa besar nikmat yang sebenarnya telah kita terima. 

Comments

Popular posts from this blog

Pak Rektor

"Pada akhirnya kita harus sepakat di koridor kekuasaan: prestasi hanyalah tumpukan debu yang gampang diterbitkan oleh waktu."  KK Ibrah Kita sepakat tentang itu. Bahwa di lorong kekuasaan, prestasi adalah barang mudah usang. Tapi bagi kami yang menyaksikan langsung hidup Kiyai Prof. Hannani, mantan Rektor IAIN Parepare yang baru saja diganti, ada debu yang tak pernah mati. Ada prestasi yang tak bisa diterbitkan oleh waktu maupun kursi. Beliau adalah sosok yang tidak pernah mengenal lelah mengurus umat. Ketika di IAIN Parepare, pulangnya kebanyakan larut malam. Di hari libur pun, beliau sering ke kantor. Semua dilakukan demi satu hal: kemajuan IAIN Parepare. Bukan untuk pujian. Bukan untuk laporan. Tapi karena baginya, mengurus kampus adalah mengurus umat, dan mengurus umat adalah ibadah yang tak mengenal waktu. Di ruang kerjanya, beliau dikenal sangat mendorong karir para dosen. Tak jarang dosen datang berkonsultasi soal kenaikan pangkat hingga guru besar. Dengan santai dan l...

Guru Honorer dan Pegawai MBG

Bayangkan dua orang pekerja di bangunan yang sama. Satu orang bertugas mengecat dinding ruangan baru, dengan seragam lengkap, peralatan memadai, dan kontrak kerja yang jelas. Yang lainnya telah bertahun-tahun menyangga atap bangunan dengan kedua tangannya, berdiri di atas pondasi yang retak, tanpa helm pengaman, dan tak pernah tahu apakah esok masih akan dipanggil bekerja. Keduanya sama-sama penting. Tapi, adilkah perlakuan terhadap mereka? Inilah alegori sederhana dari dua garda terdepan pembangunan manusia Indonesia: Guru Honorer dan Pegawai Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Narasi ini dengan tegas ingin menyampaikan: keduanya bukanlah pihak yang bertentangan. Mempertentangkan mereka ibarat mempertentangkan tangan kanan dan tangan kiri saat membangun; keduanya sama-sama penting, sama-sama dibutuhkan, dan harus sama-sama kuat. Musuh bersama sesungguhnya bukanlah sesama pekerja, melainkan sistem dan kebijakan yang belum sepenuhnya adil dalam memperlakukan semua pekerjanya. Kita semua...

Sudut Pandang

 Ada cara pandang yang diam-diam membentuk seluruh keyakinan kita. Ia tidak terlihat, tetapi menentukan siapa yang kita anggap benar, siapa yang kita anggap salah. Ia bekerja dalam senyap, meresap ke dalam setiap pertimbangan kita, seolah-olah itulah suara akal sehat semata. Padahal, dari tempat yang berbeda, satu peristiwa yang sama persis bisa memiliki makna yang bertolak belakang. Ambillah contoh sederhana di padang savana: bagi seekor rumput, rusa adalah ancaman yang datang setiap hari, menggerogoti daun-daun muda, mengancam kelangsungan hidupnya. Namun, bagi rumput yang sama, singa justru dianggap penjagakarena singa memangsa rusa, memberi ruang bagi rumput untuk tumbuh kembali. Bukan karena kenyataan berubah, tetapi karena posisi yang berbeda melahirkan penilaian yang berbeda. Tidak ada sudut pandang yang netral; setiap kita berdiri di suatu tempat, dan tempat itu mewarnai segala yang kita lihat. Di kehidupan sehari-hari, hal ini terjadi tanpa kita sadari.  Kita sering m...