Posts

Showing posts from January, 2026

Guru Honorer dan Pegawai MBG

Bayangkan dua orang pekerja di bangunan yang sama. Satu orang bertugas mengecat dinding ruangan baru, dengan seragam lengkap, peralatan memadai, dan kontrak kerja yang jelas. Yang lainnya telah bertahun-tahun menyangga atap bangunan dengan kedua tangannya, berdiri di atas pondasi yang retak, tanpa helm pengaman, dan tak pernah tahu apakah esok masih akan dipanggil bekerja. Keduanya sama-sama penting. Tapi, adilkah perlakuan terhadap mereka? Inilah alegori sederhana dari dua garda terdepan pembangunan manusia Indonesia: Guru Honorer dan Pegawai Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Narasi ini dengan tegas ingin menyampaikan: keduanya bukanlah pihak yang bertentangan. Mempertentangkan mereka ibarat mempertentangkan tangan kanan dan tangan kiri saat membangun; keduanya sama-sama penting, sama-sama dibutuhkan, dan harus sama-sama kuat. Musuh bersama sesungguhnya bukanlah sesama pekerja, melainkan sistem dan kebijakan yang belum sepenuhnya adil dalam memperlakukan semua pekerjanya. Kita semua...

Kisah Kak Titi dan Kak Sastra

Hari ini, kami berempat saya, Kak Titi, Kak Sastra, dan Kak Darma akhirnya mewujudkan rencana healing kecil-kecilan yang awalnya digagas atas nama Karang Taruna. Meski hanya segelintir yang bisa hadir, kebersamaan ini justru terasa lebih hangat dan dalam. Dalam lingkaran itu, sayalah yang termuda dan satu-satunya yang belum menikah. Perjalanan kami penuh dengan obrolan beragam, namun yang paling mengendap di hati adalah ketika mereka membuka lembaran-lembaran ujian pasca-pernikahan yang pernah mereka lalui. Kak Titi memulai dengan cerita awal rumah tangganya yang sangat sederhana. Puncak ujiannya terjadi saat mereka harus pulang dari Parepare ke Lembang. Saat itu, uang yang mereka punya hanya Rp 35.000. Di tengah jalan, ban motornya meletus. Dengan kondisi pas-pasan, mereka bersikeras untuk cukup ditambal saja, khawatir tidak cukup jika harus mengganti baru. Apalagi bensin pun belum diisi. Namun, nasib berkata lain. Ban itu kembali meletus, dan mengganti menjadi satu-satunya pilihan. K...

Keluarga Harmoni dengan Pertanyaan di Hati

Salah satu kelaurga yang membuat saya terkesan. setiap hari ke Masjid kami untuk melaksanakan shalat berjamaah. Nama samaranya Pak Eko, seorang sales rokok merek ternama. Setiap pagi, dengan setelan rapi, ia berangkat menembus kota untuk menawarkan dagangannya. Istrinya, Ibu Anu, adalah sosok pendamping setia yang mengurus rumah dengan penuh kesabaran dan cinta. Mereka dikaruniai dua putra yang menjadi kebanggaan: kita sebut saja Layla dan Majnun. Keluarga ini, dalam pandangan tetangga dan kerabat, adalah teladan yang menginspirasi. Setiap waktu sholat, terutama Maghrib dan Isya, mereka hampir tak pernah absen berjalan bersama menuju masjid. Layla dan majnun, dengan seragam putih-putih mereka, sudah hafal beberapa juz Al-Qur'an. Suara lantunan ayat suci mereka kerap terdengar merdu dari dalam rumah, mengisi senja dengan ketenangan. Kedisiplinan, keramahan, dan kehangatan mereka sebagai keluarga sungguh harmonis dan memikat hati siapa pun yang melihatnya. Namun, di balik harmoni dan...