Bismillah untuk Ibunda: Sebuah Keputusan di Ujung Air Mata
Telepon dari adik membelah rutinitas siang itu. Suaranya gemetar, menyampaikan kabar yang mengiris: Ibu sakit, dan kali ini terasa berbeda. Sejak kata-kata itu merambat di telinga, sebuah kegelisahan yang asing dan dalam langsung menyergap. Sepanjang jalan pulang dari Parepare ke Lembang, pandangan kabur oleh genangan air mata yang tak kuasa kendalikan. Setiap kilometer yang berlalu terasa seperti tarikan napas panjang yang sakit. setelah 2 hari dirawat Puskesmas hanya mampu menggeleng. Ibu harus dirujuk ke rumah sakit. Di balik tembok RS itu, sebuah kenyataan pahit menghunjam: yang selama ini kami kira 'hanya' diabetes, ternyata telah merenggut lebih banyak. Ginjal Ibunda sudah berada di stadium akhir. Diagnosis "Gagal Ginjal Stadium Akhir" menggantung di udara, berat dan menusuk. Dokter mengulurkan satu opsi: cuci darah. Namun, dari sanalah gelombang pertentangan pertama muncul di dalam keluarga. Ada suara yang ingin berjuang, namun ada juga yang ragu, bahkan menola...