Bismillah untuk Ibunda: Sebuah Keputusan di Ujung Air Mata

Telepon dari adik membelah rutinitas siang itu. Suaranya gemetar, menyampaikan kabar yang mengiris: Ibu sakit, dan kali ini terasa berbeda. Sejak kata-kata itu merambat di telinga, sebuah kegelisahan yang asing dan dalam langsung menyergap. Sepanjang jalan pulang dari Parepare ke Lembang, pandangan kabur oleh genangan air mata yang tak kuasa kendalikan. Setiap kilometer yang berlalu terasa seperti tarikan napas panjang yang sakit.

setelah 2 hari dirawat Puskesmas hanya mampu menggeleng. Ibu harus dirujuk ke rumah sakit. Di balik tembok RS itu, sebuah kenyataan pahit menghunjam: yang selama ini kami kira 'hanya' diabetes, ternyata telah merenggut lebih banyak. Ginjal Ibunda sudah berada di stadium akhir. Diagnosis "Gagal Ginjal Stadium Akhir" menggantung di udara, berat dan menusuk.

Dokter mengulurkan satu opsi: cuci darah. Namun, dari sanalah gelombang pertentangan pertama muncul di dalam keluarga. Ada suara yang ingin berjuang, namun ada juga yang ragu, bahkan menolak. Alasannya tertancap kuat pada pengalaman pilu: "Banyak yang tidak selamat dalam proses itu." Ketakutan akan kehilangan justru memunculkan sikap menyerah sebelum berperang.

Sementara perdebatan berlangsung, kondisi Ibu tak peduli. Ia semakin memprihatinkan. Setiap kali menjenguk, napas kami kerap tertahan. Keluarga berkumpul di sampingnya, banyak yang menangis tersedu, seakan mengucapkan selamat tinggal sebelum waktunya. Dalam kepasrahan yang menyakitkan itu, aku berusaha mencari celah harapan. Aku menghubungi beberapa teman, mencari mereka yang punya pengalaman atau pengetahuan tentang cuci darah. Informasi yang kudapat mulai mengerucut: ini jalan yang harus ditempuh.

Dengan bekal itu, aku mencoba lagi mendialogkan dengan keluarga. Namun, bayangan biaya yang dua kali seminggu harus menempuh perjalanan ke Parepare menjadi tembok yang kokoh. "Sampai kapan kita bisa?" tanya mereka. Ketidakpastian itu menggerogoti tekad.

Titik baliknya datang dari ruang yang paling sunyi: hati dan doa. Aku memohon petunjuk lewat shalat istikharah. Dan setelahnya, muncul keyakinan yang tenang namun kuat: Ibu harus dibawa ke RSUD Andi Makkasau, Parepare. Aku pun menyampaikan ini kepada Ibu. Beliau, yang sebelumnya lesu dan seperti menyerah, setelah melaksanakan istikharah sendiri, dengan lembut mengangguk. "Iya," katanya. Sebuah "iya" yang penuh makna.

Meski keyakinan telah menguat, bisikan keraguan tentang beban materi itu masih sesekali kembali. Lalu, terang itu datang. Aku teringat sebuah kaidah dalam maqashid syariah: menjaga jiwa (nafs) lebih tinggi derajatnya daripada menjaga harta (mal). Kata-kata itu menjadi peneguh terakhir. Dalam diam yang khusyuk, di hadapan formulir rujukan, aku dan Bapak bertukar pandang. Lalu, dengan mengucap "Bismillah", kami menandatangani surat itu, melepas keraguan, memilih untuk berjuang.

Keputusan itu adalah beban terberat yang pernah kupikul. Bukan tentang angka di atas kertas, tapi karena ia menyangkut nyawa dan harapan orang yang paling kucintai: Ibuku. Ini adalah lompatan iman, dari tepi jurang keputusasaan, menuju sebuah jalan terang yang kami percayai sebagai jalan terbaik-Nya.

Comments

Popular posts from this blog

Pak Rektor

Kecewa Boleh, Lelah Mencintai Indonesia Jangan

Zakat, Wakaf, dan Pajak: Instrumen Sosial dengan Tujuan dan Hakikat yang Berbeda