Pak Rektor
"Pada akhirnya kita harus sepakat di koridor kekuasaan: prestasi hanyalah tumpukan debu yang gampang diterbitkan oleh waktu." KK Ibrah
Kita sepakat tentang itu. Bahwa di lorong kekuasaan, prestasi adalah barang mudah usang. Tapi bagi kami yang menyaksikan langsung hidup Kiyai Prof. Hannani, mantan Rektor IAIN Parepare yang baru saja diganti, ada debu yang tak pernah mati. Ada prestasi yang tak bisa diterbitkan oleh waktu maupun kursi.
Beliau adalah sosok yang tidak pernah mengenal lelah mengurus umat. Ketika di IAIN Parepare, pulangnya kebanyakan larut malam. Di hari libur pun, beliau sering ke kantor. Semua dilakukan demi satu hal: kemajuan IAIN Parepare. Bukan untuk pujian. Bukan untuk laporan. Tapi karena baginya, mengurus kampus adalah mengurus umat, dan mengurus umat adalah ibadah yang tak mengenal waktu.
Di ruang kerjanya, beliau dikenal sangat mendorong karir para dosen. Tak jarang dosen datang berkonsultasi soal kenaikan pangkat hingga guru besar. Dengan santai dan logat Bugis yang hangat, beliau berkata, "Pak Haramin, itai jolo wadding, moga diusahakan." Bukan sekadar kata manis. Beliau sungguh-sungguh mengusahakan. Karena baginya, memuliakan ilmu adalah memuliakan masa depan umat.
Pernah saya pribadi mendengar percakapan beliau dengan beberapa tamu yang membahas laporan pertanggungjawaban di pusat. Dengan suara tenang namun penuh keyakinan, beliau mengatakan, "Saya ini pimpinan pondok, pak. Saya sangat yakin, sepeser pun yang saya ambil dari yang bukan milik saya apalagi uang umat maka karmanya akan kembali dengan berlipat ganda." Itulah beliau. Teguh. Bersih. Takut kepada Allah lebih dari takut pada manusia.
Tentang integritas, beliau pernah mengingatkan seorang dosen yang juga pimpinan pondok. Dosen itu lebih banyak menghabiskan waktu di pondok daripada mengajar sebagai pekerjaan utamanya. Dengan lembut namun tegas, beliau berkata, "Pekerjaan utama mu adalah dosen. Pondok itu sebatas pengabdian. Kalau tidak begitu, rejekimu de' na mabbarakka." Tidak akan berkah.
Lalu ada kisah yang paling menyayat. Suatu ketika, pendaftaran CPNS. Seorang dari keluarganya sendiri lulus wawancara. Keluarga meminta bantuan beliau untuk meluluskannya. Cukup satu telepon. Satu anggukan. Tapi Kiyai Hannani tidak menghiraukan. Beliau biarkan semuanya berjalan semestinya. Keluarganya tidak lulus. Dan sejak saat itu, beliau mendapat perlakuan kurang respek dari keluarganya sendiri. Ada yang menjauh, ada yang menyindir.
Namun dengan santainya, sambil tersenyum, beliau menceritakan hal itu kepada kami. Seperti orang yang bercerita tentang cuaca. Tanpa beban. Tanpa dendam. Seolah beliau berkata, "Lihat, ini harga dari menjaga amanah." Kami yang mendengar hanya bisa menunduk. Menahan sesuatu di dada.
Dari beliau, kami belajar konsep jamang-jamang lino: jangan terlalu mengejar jabatan. Kalau diberi, kerjakan dengan baik. Kalau tidak diberi, ya tidak apa-apa. Dunia hanya persinggahan. Jabatan hanya pinjaman. Maka ketika beliau diganti, tidak ada protes. Tidak ada gugatan. Beliau membereskan meja, menyerahkan kunci, lalu pulang. Dengan motor. Bukan dengan mobil dinas. Hanya motor tua yang sudah beliau miliki jauh sebelum menjadi rektor.
Dan yang paling terakhir kami dapatkan dari beliau pada saat pembacaan ratib di rektorat seblum pengumuman rektor adalah zikir la ilaha illallah. Beliau yakin, dengan istiqamah mengamalkannya, insyaAllah tidak ada lagi takdir yang buruk. Semua takdir itu baik. Termasuk ketika beliau harus pergi dari kursi rektor. Termasuk ketika prestasinya yang segudang itu menjadi debu di koridor kekuasaan.
Karena bagi beliau, kebaikan sejati bukanlah jabatan, melainkan pulang dengan hati tenang dan tangan bersih. Bukan diukur dari berapa banyak yang kita kumpulkan, tapi dari berapa banyak yang kita tidak ambil meski punya kuasa untuk mengambilnya.
Kini Kiyai Hannani telah diganti. Prestasinya mungkin hanya tumpukan debu bagi koridor kekuasaan. Tapi debu itu tidak mati. Debu itu beterbangan di ruang kelas yang beliau perjuangkan, di hati dosen yang karirnya beliau dorong, di pondok tempat beliau kembali mengajar, ditemani zikir la ilaha illallah yang tak pernah putus.
Dan suatu hari, ketika koridor kekuasaan itu runtuh, dan semua nama besar dilupakan, debu-debu kecil dari kehidupan sederhana Kiyai Hannani akan tetap berdansa di angin. Sebagai saksi bahwa pernah ada seorang pemimpin yang pulang dengan motor, namun membawa nama yang jauh lebih harum daripada parfum mahal para pemburu dunia.
La ilaha illallah. Semua takdir itu baik. Termasuk ketika beliau harus diganti.
Comments
Post a Comment