Posts

MBG ( Mas Bahlil Ganteng )

Dulu, siapa yang menguasai media, dialah penguasa. Di era Orde Baru, pemilik stasiun TV, koran, dan radio mengatur narasi publik secara terpusat. Isu kekerasan seksual, skandal elite, atau kebijakan kontroversial bisa dengan mudah dikubur karena tidak ada saluran alternatif yang berani memuatnya. Rakyat hanya tahu apa yang ditayangkan. Namun sekarang, lanskap kekuasaan telah berubah drastis. Platform digital seperti TikTok, YouTube, Instagram, X, dan Facebook telah menggantikan posisi media tradisional sebagai pembentuk opini utama. Bukan lagi pemilik stasiun TV yang menentukan narasi, melainkan algoritma rekomendasi. Algoritmalah yang memutuskan konten apa yang dilihat miliaran orang, berapa lama mereka bertahan, dan apa yang akhirnya mereka percayai sebagai kebenaran. Penguasa algoritma bukan lagi sekadar pemilik media, tetapi teknisionais platform, data scientist, dan pemodal venture capital yang mengendalikan infrastruktur digital dari balik layar. Di Indonesia, perusahaan seperti ...

Rektor Baru

   Hari ini adalah hari yang berkesan. Dalam acara pelantikan pimpinan kampus IAIN Parepare, saya disuguhkan dengan momen yang membuat hati bergerak dan pikiran merenung. Ketika mendengar nama Ustas Budiman seorang guru dan orang tua kami dilantik menjadi Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Islam, perasaan kebanggaan berpadu dengan refleksi mendalam tentang makna kepemimpinan dan hikmah di balik setiap keputusan. Ingatan saya membawa kembali pada sebuah nasehat berharga yang pernah beliau sampaikan. Ketika memasuki momen pilihan presiden beberapa waktu lalu, saya dan mungkin banyak yang lain sempat heran dan bahkan merasa seakan mencelah ketika Kiyai Maruf Amin memutuskan untuk ikut dalam kontestasi. Sebagai seorang ulama terkemuka, keputusannya terasa tidak sejalan dengan ekspektasi sebagian orang. Namun, Ustas Budiman memberikan perspektif yang mengubah sudut pandang saya. "Kiyai Maruf Amin adalah ulama," beliau berkata dengan tenang. "Pasti ada pertimbangan khusus yang d...

Jumat berkah 29

  Sampai di Jumat Berkah ke-29 Masjid Syamsul Uqala, saya merasa rasanya cukup sampai di sini saja. Perasaan itu lalu saya sampaikan kepada teman saya, Ibe. Ibe pun sepakat, sambil terkekeh. Namun, setelah selesai membuat laporan dokumentasi Jumat Berkah hari ini, kamipun melihat senyum jamaah dari anak kecil sampai orang tua sambil menikmati hidangan jumat berkah hari ini, hati ini justru diliputi rasa gembira dan bahagia yang begitu dalam. Melihat orang-orang makan dan minum dari hasil sumbangan para dermawan, ada getar bahagia yang sulit dijelaskan. Dalam hati pun bergumam, "Oh, mungkin ini maksud perkataan Pak Kiyai Hannani: Jangan cari kebahagiaan dari orang lain, cukup bahagiakan orang lain. Allah akan memberi kebahagiaan kepadamu." bismillah jumat depan kita lanjut lagi

Malaysia

 Kemarin saya kembali melihat sebuah ironi dalam kehidupan keluarga. Seorang ibu yang cukup saya kenal memutuskan berangkat ke Malaysia menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI). Beliau meninggalkan tiga orang anak: anak pertama perempuan yang sudah menikah, anak kedua yang baru duduk di kelas satu SMA, dan anak terakhir seorang anak laki-laki kecil yang baru masuk kelas satu SD. Awalnya saya menganggap keberangkatan beliau sebagai sesuatu yang biasa saja, sebagaimana cerita banyak orang yang pergi merantau demi mencari nafkah dan memperbaiki keadaan ekonomi keluarga. Tidak ada yang tampak berbeda dari wajahnya. Beliau tetap tersenyum, berbicara seperti biasa, dan terlihat tegar seperti seorang ibu pada umumnya. Namun, semua pandangan itu berubah ketika beliau pamit sebelum keberangkatannya. Saat memeluk saya, beliau sempat berkata pelan dalam bahasa Pattinjo, “Joke lao ke tannia maneku,” yang berarti, “Saya tidak akan pergi kalau bukan karena suami saya.” Kalimat itu sederhana, tetapi...

Pak Rektor

"Pada akhirnya kita harus sepakat di koridor kekuasaan: prestasi hanyalah tumpukan debu yang gampang diterbitkan oleh waktu."  KK Ibrah Kita sepakat tentang itu. Bahwa di lorong kekuasaan, prestasi adalah barang mudah usang. Tapi bagi kami yang menyaksikan langsung hidup Kiyai Prof. Hannani, mantan Rektor IAIN Parepare yang baru saja diganti, ada debu yang tak pernah mati. Ada prestasi yang tak bisa diterbitkan oleh waktu maupun kursi. Beliau adalah sosok yang tidak pernah mengenal lelah mengurus umat. Ketika di IAIN Parepare, pulangnya kebanyakan larut malam. Di hari libur pun, beliau sering ke kantor. Semua dilakukan demi satu hal: kemajuan IAIN Parepare. Bukan untuk pujian. Bukan untuk laporan. Tapi karena baginya, mengurus kampus adalah mengurus umat, dan mengurus umat adalah ibadah yang tak mengenal waktu. Di ruang kerjanya, beliau dikenal sangat mendorong karir para dosen. Tak jarang dosen datang berkonsultasi soal kenaikan pangkat hingga guru besar. Dengan santai dan l...

Chunce

 you are star up in the clouds I am the meirdo who traverses the river of loneliness the executioner on the bridge is killing dreams the gunshots from the embankment killed all desiress I hold a worn - out address  it saya... this lonely hill's edge is where I see you at your most Beautiful  buat right now  my bubbling heart has become numb my body.... has become visibly old  i Will soon forget  how long i've been trapped

Pesta Babi

Di ujung timur Indonesia, di balik hamparan hutan basah Papua Selatan dan aliran sungai yang menjadi nadi kehidupan suku  Marind, Yei, Awyu, dan Muyu , ada sebuah peristiwa sunyi yang kini mulai terdengar. Bukan suara gergaji mesin, melainkan deru  Proyek Strategis Nasional (PSN)   proyek sawit serta bioetanol . Bukan juga ratapan tanah longsor, melainkan bisik dokumenter yang coba merekam fakta. Namun alih-alih didengar, bisik itu justru dibungkam. Film itu bernama Pesta Babi. Sebuah karya dokumenter dari Dandhy Laksono dan tim. Lahir dari kegelisahan anak bangsa yang ingin menjaga Paru-Paru Papua tetap utuh. Bukan film provokasi, melainkan catatan jurnalistik tentang proyek pemerintah di tengah ekosistem yang rapuh. Film ini sudah bisa diakses publik. Bisa ditonton, dicermati, dan didiskusikan secara sehat. Seharusnya, itu adalah lahan subur bagi demokrasi dan kesadaran lingkungan. Tapi miris. Sungguh miris. Alih-alih mendukung, justru ada oknum pemerintah yang melarang...