Skip to main content

Posts

Lebih dari Sekadar Baik

Ada dua jenis kebaikan di dunia ini. Pertama, kebaikan yang diam. Ia tidak berbuat jahat, tidak merugikan, dan tidak melanggar. Ia hadir seperti pohon di pinggir jalan yang tidak menabrak siapa pun, tetapi juga tidak pernah bertanya apakah ada yang haus akan buahnya. Inilah yang disebut "baik" dalam arti sempit, sebuah status moral yang pasif, cukup untuk tidak masuk neraka tetapi tidak cukup untuk mengubah keadaan. Kebaikan kedua adalah kebaikan yang bergerak. Ia tidak puas dengan niat baik yang mengendap di hati. Ia keluar dari zona nyaman, masuk ke dalam relung kebutuhan orang lain, dan bertransformasi menjadi sesuatu yang terasa, terukur, dan terlihat dampaknya. Inilah yang disebut "bermanfaat". Perbedaan keduanya bukanlah soal niat, karena niat baik sama-sama ada. Perbedaannya adalah eksekusi. Kebaikan adalah bunga yang mekar di taman hati, sedangkan manfaat adalah tangan yang memetik bunga itu dan memberikannya kepada yang sedang bersedih. Seringkali kita terj...
Recent posts

Mengantar Mereka ke Panggung Nasional

  Saya masih ingat betul saat pertama kali melihat Muhammad Ramdana dan Meilani Magfirah duduk di ruang kuliah semester dua. Wajah mereka masih penuh dengan rasa ingin tahu, masih canggung dengan dunia akademik yang baru saja mereka mulai. Tapi di balik itu semua, ada sesuatu yang saya tangkap semacam api kecil yang jika diasah akan menyala. Berawal dari diskusi sederhana di kelas, saya sebagai dosen pengampu hanya ingin mereka tidak sekadar memahami teori. Saya ingin mereka merasakan bagaimana rasanya menghasilkan sesuatu. Saya ingin mereka tahu bahwa gagasan-gagasan yang muncul di ruang kelas itu berharga. Maka saya arahkan mereka untuk mengembangkan ide-ide itu menjadi karya nyata, sesuai dengan tuntutan kurikulum berbasis OBE. Tiga tim terbentuk. Tiga tim berani mengambil langkah. Mereka mengirimkan karya ke BRINATHON IRIFAIR 2026 yang diselenggarakan oleh BRIN. Saya tidak pernah memasang target tinggi. Saya hanya berharap mereka berani submit. Karena bagi saya, keberanian untu...

Selamat ulang tahun

 Hari ini, 21 Agustus , semoga menjadi titik awal yang lebih baik untuk perjalanan hidupmu. Semoga Allah memberikan umur yang panjang, kesehatan, ilmu yang bermanfaat, rezeki yang luas, keluarga yang selalu dalam keberkahan, dan kemudahan dalam setiap cita-cita . Di usia yang baru ini, semoga langkahmu menuju gelar doktor, menjadi profesor, menghasilkan karya-karya ilmiah yang bermanfaat, dan memberi kontribusi bagi masyarakat semakin dimudahkan. Dan semoga semua kebaikan yang kamu lakukan—di kampus, dalam penelitian, maupun di masjid dan masyarakat—menjadi amal yang terus mengalir. Selamat bertambah usia. Selamat bertambah matang, kuat, dan bermanfaat. 🤲 “Ya Allah, berkahilah usiaku yang bertambah, ampuni kekuranganku di masa lalu, dan jadikan hari-hari yang akan datang lebih baik daripada hari-hari yang telah berlalu.” 🎂 Happy birthday, Syaifullah. Semoga tahun ini menjadi salah satu tahun terbaik dalam hidupmu. ❤️ From Chatgpt

Teladan Dua Kiai: Gus Dur dan KH. Ali Yafie

  KH Helmi Ali Yafie bercerita kepada kami. Cerita yang membuat dada tersentak. Sekaligus adem. Soal dua tokoh besar. Dua raksasa Nahdlatul Ulama: Gus Dur dan Kiai Ali Yafie. Waktu itu awal 1990-an. Suasana PBNU sedang hangat-hangatnya. Bahkan panas. Pemicunya bukan hanya cuma soal ICMI, tapi soal yang sangat sensitif saat itu: SDSB. Bagi rakyat kecil, SDSB itu sejatinya judi kupon putih yang dilegalkan negara. Kiai Ali Yafie gusar luar biasa. Sebagai ulama ahli fikih, beliau melihat SDSB merusak moral masyarakat bawah dan jelas-jelas haram. Beliau menuntut PBNU mengeluarkan fatwa tegas dan keras menolak SDSB. Tapi Gus Dur punya kalkulasi lain. Bukan berarti Gus Dur setuju judi. Sama sekali tidak. Namun, sebagai Ketua Umum Tanfidziyah PBNU, Gus Dur harus berselancar di antara tekanan politik Soeharto yang sedang kuat-kuatnya. Gus Dur memilih cara berdialog dan manuver taktis ketimbang konfrontasi terbuka yang bisa membuat NU dihantam rezim Orde Baru. Dua-duanya ulama kelas wahid. D...

Pelo"

Suatu malam yang hangat kota parepare, saya bersama senior saya, Kak Burhan, mengendarai Vario putih menuju rumah Kiyai Prof. Hannani untuk meminta restu dan doa pernikahan. Di ruang tamu yang sederhana, setelah obrolan ringan, Pak Kiyai tiba-tiba menoleh ke Kak Burhan seraya berkata, "Burhan, merokoklah." Namun Kak Burhan menjawab dengan sopan, "Maaf, Pak Kiyai, saya sudah berhenti merokok." Lalu Kiyai Hannani tersenyum lebar dan berseru dengan nada menggoda, "Aja... pajai mappelo makanja tu mappelo", dan kami pun tertawa bersama. Beberapa waktu kemudian, ketika saya mendapat kehormatan menemani beliau ke acara pernikahan Kak Burhan di Bola Patappuloe, di tengah perjalanan Pak Kiyai menoleh dan bertanya, "Mappelo ko?" Saya menjawab jujur, "Tidak, Pak Kiyai." Lalu dengan nada yang sangat berbeda nada sarat nasihat—beliau berkata sambil memegang rokok dan tertawa, "Makanja aja mappelo degaga gunana" ("merokok itu tidak ada...

Saat Tuhan Mengangkat Derajat Orang-Orang yang Bertahan

Dalam hidup, setiap manusia pernah berada di persimpangan dan di sanalah kita menentukan pilihan entah itu karier, pendidikan, pasangan hidup, atau prinsip yang kita pegang, namun memilih hanyalah awal karena ujian sesungguhnya ada pada proses bertahan, saat beban terasa begitu berat, langkah tersendat, dan suara-suara sumbang berbisik untuk menyerah, dan di titik inilah istiqomah diuji karena bertahan pada cita-cita bukanlah tentang keras kepala melainkan tentang keyakinan bahwa setiap tetes keringat, setiap air mata yang tertahan, dan setiap lelah yang dipikul karena pilihan yang baik tidak akan sia-sia, sebagaimana Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Ahqaf ayat 13, "Sesungguhnya orang-orang yang berkata: 'Tuhan kami ialah Allah,' kemudian mereka istiqomah, maka tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati," yang merupakan janji agung bahwa ketakutan diganti ketenangan dan kesedihan diganti kebahagiaan, bukan karena jalannya tiba-tiba mulus tetapi k...

MBG ( Mas Bahlil Ganteng )

Dulu, siapa yang menguasai media, dialah penguasa. Di era Orde Baru, pemilik stasiun TV, koran, dan radio mengatur narasi publik secara terpusat. Isu kekerasan seksual, skandal elite, atau kebijakan kontroversial bisa dengan mudah dikubur karena tidak ada saluran alternatif yang berani memuatnya. Rakyat hanya tahu apa yang ditayangkan. Namun sekarang, lanskap kekuasaan telah berubah drastis. Platform digital seperti TikTok, YouTube, Instagram, X, dan Facebook telah menggantikan posisi media tradisional sebagai pembentuk opini utama. Bukan lagi pemilik stasiun TV yang menentukan narasi, melainkan algoritma rekomendasi. Algoritmalah yang memutuskan konten apa yang dilihat miliaran orang, berapa lama mereka bertahan, dan apa yang akhirnya mereka percayai sebagai kebenaran. Penguasa algoritma bukan lagi sekadar pemilik media, tetapi teknisionais platform, data scientist, dan pemodal venture capital yang mengendalikan infrastruktur digital dari balik layar. Di Indonesia, perusahaan seperti ...