Kemarin saya kembali melihat sebuah ironi dalam kehidupan keluarga. Seorang ibu yang cukup saya kenal memutuskan berangkat ke Malaysia menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI). Beliau meninggalkan tiga orang anak: anak pertama perempuan yang sudah menikah, anak kedua yang baru duduk di kelas satu SMA, dan anak terakhir seorang anak laki-laki kecil yang baru masuk kelas satu SD. Awalnya saya menganggap keberangkatan beliau sebagai sesuatu yang biasa saja, sebagaimana cerita banyak orang yang pergi merantau demi mencari nafkah dan memperbaiki keadaan ekonomi keluarga. Tidak ada yang tampak berbeda dari wajahnya. Beliau tetap tersenyum, berbicara seperti biasa, dan terlihat tegar seperti seorang ibu pada umumnya.
"Pada akhirnya kita harus sepakat di koridor kekuasaan: prestasi hanyalah tumpukan debu yang gampang diterbitkan oleh waktu." KK Ibrah Kita sepakat tentang itu. Bahwa di lorong kekuasaan, prestasi adalah barang mudah usang. Tapi bagi kami yang menyaksikan langsung hidup Kiyai Prof. Hannani, mantan Rektor IAIN Parepare yang baru saja diganti, ada debu yang tak pernah mati. Ada prestasi yang tak bisa diterbitkan oleh waktu maupun kursi. Beliau adalah sosok yang tidak pernah mengenal lelah mengurus umat. Ketika di IAIN Parepare, pulangnya kebanyakan larut malam. Di hari libur pun, beliau sering ke kantor. Semua dilakukan demi satu hal: kemajuan IAIN Parepare. Bukan untuk pujian. Bukan untuk laporan. Tapi karena baginya, mengurus kampus adalah mengurus umat, dan mengurus umat adalah ibadah yang tak mengenal waktu. Di ruang kerjanya, beliau dikenal sangat mendorong karir para dosen. Tak jarang dosen datang berkonsultasi soal kenaikan pangkat hingga guru besar. Dengan santai dan l...
Comments
Post a Comment