Malaysia

 Kemarin saya kembali melihat sebuah ironi dalam kehidupan keluarga. Seorang ibu yang cukup saya kenal memutuskan berangkat ke Malaysia menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI). Beliau meninggalkan tiga orang anak: anak pertama perempuan yang sudah menikah, anak kedua yang baru duduk di kelas satu SMA, dan anak terakhir seorang anak laki-laki kecil yang baru masuk kelas satu SD. Awalnya saya menganggap keberangkatan beliau sebagai sesuatu yang biasa saja, sebagaimana cerita banyak orang yang pergi merantau demi mencari nafkah dan memperbaiki keadaan ekonomi keluarga. Tidak ada yang tampak berbeda dari wajahnya. Beliau tetap tersenyum, berbicara seperti biasa, dan terlihat tegar seperti seorang ibu pada umumnya.

Namun, semua pandangan itu berubah ketika beliau pamit sebelum keberangkatannya. Saat memeluk saya, beliau sempat berkata pelan dalam bahasa Pattinjo, “Joke lao ke tannia maneku,” yang berarti, “Saya tidak akan pergi kalau bukan karena suami saya.” Kalimat itu sederhana, tetapi terasa sangat berat. Saya terdiam beberapa saat mencoba memahami maksudnya. Lalu beliau mulai bercerita bahwa suaminya ternyata berselingkuh. Seketika dada saya terasa sesak. Saya tidak mampu menahan air mata. Selama ini saya mengenalnya sebagai sosok ibu yang selalu tersenyum, ramah, dan tampak kuat menghadapi kehidupan. Tidak pernah terbayang bahwa di balik senyum itu, beliau menyimpan luka yang begitu dalam.

Saat itu saya menyadari bahwa tidak semua orang yang pergi merantau benar-benar pergi semata-mata karena alasan ekonomi. Banyak orang melihat beliau berangkat ke Malaysia sebagai perjuangan seorang ibu mencari nafkah untuk anak-anaknya. Itu memang benar, tetapi ada kenyataan lain yang lebih menyakitkan. Keberangkatan beliau ternyata bukan hanya tentang pekerjaan atau penghasilan, melainkan tentang usaha menyembuhkan luka batin yang terus menghantuinya di rumahnya sendiri. Malaysia bagi beliau bukan sekadar tempat mencari uang, tetapi juga tempat untuk mencoba menjauh dari sumber rasa sakit yang setiap hari ia hadapi, yaitu pengkhianatan suaminya sendiri.

Saya membayangkan betapa berat keputusan itu. Seorang ibu harus meninggalkan anak-anaknya, terutama anak laki-lakinya yang masih sangat kecil, bukan karena ia ingin hidup jauh dari keluarga, tetapi karena rumah yang seharusnya menjadi tempat paling nyaman justru berubah menjadi tempat yang penuh luka. Kadang kita terlalu mudah menilai kehidupan orang lain dari apa yang tampak di permukaan. Kita melihat seseorang bekerja ke luar negeri lalu menganggap semuanya tentang ekonomi. Padahal bisa jadi ada air mata, kekecewaan, dan rasa hancur yang tidak pernah diceritakan kepada siapa pun.

Peristiwa itu membuat saya kembali memahami bahwa banyak orang sebenarnya sedang berjuang melawan luka yang tidak terlihat. Ada orang yang tetap tersenyum meskipun hatinya remuk. Ada orang yang terlihat kuat padahal sedang berusaha bertahan dari rasa sakit yang luar biasa. Dan ada pula orang yang memilih pergi jauh bukan karena ingin meninggalkan rumah, tetapi karena rumah itu sendiri sudah tidak lagi memberi ketenangan.

Kemarin saya belajar bahwa di balik langkah seseorang untuk merantau, terkadang tersembunyi cerita pilu yang tidak pernah diketahui orang lain. Realitanya, banyak orang melihat beliau pergi demi mencari nafkah, namun pada hakikatnya beliau berangkat karena sedang berusaha lari dari rasa sakit yang begitu dalam.

RS. Madising

Comments

Popular posts from this blog

Pak Rektor

Kecewa Boleh, Lelah Mencintai Indonesia Jangan

Zakat, Wakaf, dan Pajak: Instrumen Sosial dengan Tujuan dan Hakikat yang Berbeda