Skip to main content

MBG ( Mas Bahlil Ganteng )

Dulu, siapa yang menguasai media, dialah penguasa. Di era Orde Baru, pemilik stasiun TV, koran, dan radio mengatur narasi publik secara terpusat. Isu kekerasan seksual, skandal elite, atau kebijakan kontroversial bisa dengan mudah dikubur karena tidak ada saluran alternatif yang berani memuatnya. Rakyat hanya tahu apa yang ditayangkan. Namun sekarang, lanskap kekuasaan telah berubah drastis. Platform digital seperti TikTok, YouTube, Instagram, X, dan Facebook telah menggantikan posisi media tradisional sebagai pembentuk opini utama. Bukan lagi pemilik stasiun TV yang menentukan narasi, melainkan algoritma rekomendasi. Algoritmalah yang memutuskan konten apa yang dilihat miliaran orang, berapa lama mereka bertahan, dan apa yang akhirnya mereka percayai sebagai kebenaran. Penguasa algoritma bukan lagi sekadar pemilik media, tetapi teknisionais platform, data scientist, dan pemodal venture capital yang mengendalikan infrastruktur digital dari balik layar. Di Indonesia, perusahaan seperti Meta, Google, TikTok, serta konglomerat digital lokal memiliki pengaruh luar biasa, melampaui kekuasaan menteri atau bahkan presiden dalam hal membentuk opini publik sehari hari. Namun ada paradoks besar: algoritma tidak berorientasi pada kebenaran, keadilan, atau urgensi isu. Algoritma berorientasi pada engagement, yakni lama menonton, like, share, dan komentar. Dan engagement tertinggi jarang jatuh pada berita serius. Yang paling disukai algoritma adalah hiburan, gimmick, humor visual, konten ringan yang mudah dikonsumsi dan ditiru, serta yang paling penting, tidak kontroversial. Inilah celah yang kemudian dimanfaatkan, secara sadar atau tidak, untuk menenggelamkan isu isu politik dan ekonomi yang seharusnya menjadi perhatian utama publik.

Bayangkan jika publik sedang dihadapkan pada sederet persoalan politik yang serius. Misalnya, kontroversi kebijakan hilirisasi yang merugikan industri kecil, atau polemik revisi undang undang yang mengancam demokrasi, atau bahkan isu dinasti politik yang kembali menguat menjelang pilkada serentak. Di sisi ekonomi, rakyat sedang dibebani oleh kenaikan harga kebutuhan pokok yang tak terkendali, pelemahan rupiah yang menggerus daya beli, serta ancaman Pemutusan Hubungan Kerja massal di sektor manufaktur dan tekstil. Belum lagi skandal korupsi di sektor sumber daya alam yang merugikan negara triliunan rupiah, atau kebijakan pajak yang membebani kelas menengah. Semua isu ini seharusnya menjadi perdebatan panas di ruang publik. Tetapi apakah isu isu itu pernah mencapai puncak trending dalam waktu lama? Tidak. Mengapa? Karena algoritma tidak pernah memprioritaskan konten yang membuat orang marah, cemas, atau putus asa dalam durasi panjang. Isu politik dan ekonomi yang berat justru membuat publik lelah dan ingin scrolling cepat untuk mencari hiburan. Dan di situlah gimmick seperti MBG alias Makan Bergizi Gratis dan Mas Bahlil Ganteng masuk sebagai penyelamat, setidaknya bagi mereka yang ingin mengalihkan perhatian.

Pada 30 Mei 2026, detikNews melaporkan bahwa pimpinan pondok pesantren di Kecamatan Belo, Kabupaten Bima, berinisial RS yang berusia 50 tahun, ditangkap karena diduga menyodomi 10 orang santri. Kasus kekerasan seksual massal di lembaga pendidikan agama seharusnya mengguncang publik. Sosiolog Universitas Gadjah Mada, dalam rilis di laman ugm.ac.id pada 19 Mei 2026, mendorong penguatan sistem pelaporan dan pengawasan di pesantren. Mubadalah.id pada 31 Mei 2026 menerbitkan artikel tentang menjaga marwah pesantren bukan dengan menutupi kasus kekerasan seksual, serta melaporkan bahwa pegiat Nawaning Nusantara sudah melakukan 94 kali pelatihan ke 9.000 santri. Namun semua ini tenggelam. Bukan hanya kalah oleh MBG dan Mas Bahlil Ganteng, tetapi memang sengaja ditenggelamkan karena isu kekerasan seksual di pesantren bisa berdampak politik, memicu pertanyaan tentang pengawasan pemerintah terhadap lembaga agama, kinerja Kementerian Agama, dan komitmen negara terhadap perlindungan anak. Isu semacam ini berbahaya bagi stabilitas citra pemerintah, apalagi jika dikaitkan dengan janji kampanye tentang perlindungan anak dan peningkatan kualitas pendidikan agama.

Maka lahirlah strategi pengalihan yang sempurna di era algoritma. Tidak perlu melarang jurnalis, tidak perlu membredel media sosial, tidak perlu mengerahkan aparat. Cukup dengan membiarkan atau bahkan mendorong gimmick viral seperti MBG dan Mas Bahlil Ganteng. Program Makan Bergizi Gratis, meskipun terdengar pro rakyat, jika dikemas secara berlebihan dalam bentuk video anak anak tersenyum dan pejabat tampan yang diedit edit, berubah dari kebijakan publik menjadi tontonan hiburan. Setiap kali isu politik yang panas mulai mencuat, misalnya kegagalan pemerintah mengendalikan inflasi atau skandal korupsi di kementerian, maka secara ajaib linimasa sosial media kembali dipenuhi oleh konten Mas Bahlil yang diganteng gantengkan. Algoritma bekerja persis seperti yang diharapkan, mengubur isu serius di bawah gunungan tawa. Publik yang lelah setelah seharian bekerja, yang otaknya sudah terlatih untuk scroll cepat, dengan sukarela memilih menonton Mas Bahlil editan ganteng daripada membaca laporan inflasi atau kasus sodomi. Mereka bahkan tidak sadar sedang dialihkan. Mereka mengira sedang bersenang senang. Padahal di balik layar, isu isu politik dan ekonomi yang seharusnya menjadi bahan kontrol publik terhadap pemerintah lenyap tanpa jejak. Tidak ada demonstrasi besar, tidak ada tuntutan turun ke jalan, tidak ada gerakan protes yang terorganisir. Semua terkubur oleh tawa lima belas detik. Maka tepatlah pepatah baru: siapa yang menguasai algoritma, dialah penguasa. Dan di Indonesia hari ini, algoritma sedang bekerja untuk pemerintah, menenggelamkan setiap isu politik dan ekonomi yang mengancam, dengan senjata paling ampuh bernama gimmick viral.

Comments

Popular posts from this blog

Pak Rektor

"Pada akhirnya kita harus sepakat di koridor kekuasaan: prestasi hanyalah tumpukan debu yang gampang diterbitkan oleh waktu."  KK Ibrah Kita sepakat tentang itu. Bahwa di lorong kekuasaan, prestasi adalah barang mudah usang. Tapi bagi kami yang menyaksikan langsung hidup Kiyai Prof. Hannani, mantan Rektor IAIN Parepare yang baru saja diganti, ada debu yang tak pernah mati. Ada prestasi yang tak bisa diterbitkan oleh waktu maupun kursi. Beliau adalah sosok yang tidak pernah mengenal lelah mengurus umat. Ketika di IAIN Parepare, pulangnya kebanyakan larut malam. Di hari libur pun, beliau sering ke kantor. Semua dilakukan demi satu hal: kemajuan IAIN Parepare. Bukan untuk pujian. Bukan untuk laporan. Tapi karena baginya, mengurus kampus adalah mengurus umat, dan mengurus umat adalah ibadah yang tak mengenal waktu. Di ruang kerjanya, beliau dikenal sangat mendorong karir para dosen. Tak jarang dosen datang berkonsultasi soal kenaikan pangkat hingga guru besar. Dengan santai dan l...

Guru Honorer dan Pegawai MBG

Bayangkan dua orang pekerja di bangunan yang sama. Satu orang bertugas mengecat dinding ruangan baru, dengan seragam lengkap, peralatan memadai, dan kontrak kerja yang jelas. Yang lainnya telah bertahun-tahun menyangga atap bangunan dengan kedua tangannya, berdiri di atas pondasi yang retak, tanpa helm pengaman, dan tak pernah tahu apakah esok masih akan dipanggil bekerja. Keduanya sama-sama penting. Tapi, adilkah perlakuan terhadap mereka? Inilah alegori sederhana dari dua garda terdepan pembangunan manusia Indonesia: Guru Honorer dan Pegawai Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Narasi ini dengan tegas ingin menyampaikan: keduanya bukanlah pihak yang bertentangan. Mempertentangkan mereka ibarat mempertentangkan tangan kanan dan tangan kiri saat membangun; keduanya sama-sama penting, sama-sama dibutuhkan, dan harus sama-sama kuat. Musuh bersama sesungguhnya bukanlah sesama pekerja, melainkan sistem dan kebijakan yang belum sepenuhnya adil dalam memperlakukan semua pekerjanya. Kita semua...

Sudut Pandang

 Ada cara pandang yang diam-diam membentuk seluruh keyakinan kita. Ia tidak terlihat, tetapi menentukan siapa yang kita anggap benar, siapa yang kita anggap salah. Ia bekerja dalam senyap, meresap ke dalam setiap pertimbangan kita, seolah-olah itulah suara akal sehat semata. Padahal, dari tempat yang berbeda, satu peristiwa yang sama persis bisa memiliki makna yang bertolak belakang. Ambillah contoh sederhana di padang savana: bagi seekor rumput, rusa adalah ancaman yang datang setiap hari, menggerogoti daun-daun muda, mengancam kelangsungan hidupnya. Namun, bagi rumput yang sama, singa justru dianggap penjagakarena singa memangsa rusa, memberi ruang bagi rumput untuk tumbuh kembali. Bukan karena kenyataan berubah, tetapi karena posisi yang berbeda melahirkan penilaian yang berbeda. Tidak ada sudut pandang yang netral; setiap kita berdiri di suatu tempat, dan tempat itu mewarnai segala yang kita lihat. Di kehidupan sehari-hari, hal ini terjadi tanpa kita sadari.  Kita sering m...