Skip to main content

Pesta Babi

Di ujung timur Indonesia, di balik hamparan hutan basah Papua Selatan dan aliran sungai yang menjadi nadi kehidupan suku Marind, Yei, Awyu, dan Muyu, ada sebuah peristiwa sunyi yang kini mulai terdengar. Bukan suara gergaji mesin, melainkan deru Proyek Strategis Nasional (PSN) proyek sawit serta bioetanol. Bukan juga ratapan tanah longsor, melainkan bisik dokumenter yang coba merekam fakta.

Namun alih-alih didengar, bisik itu justru dibungkam.

Film itu bernama Pesta Babi. Sebuah karya dokumenter dari Dandhy Laksono dan tim. Lahir dari kegelisahan anak bangsa yang ingin menjaga Paru-Paru Papua tetap utuh. Bukan film provokasi, melainkan catatan jurnalistik tentang proyek pemerintah di tengah ekosistem yang rapuh.

Film ini sudah bisa diakses publik. Bisa ditonton, dicermati, dan didiskusikan secara sehat. Seharusnya, itu adalah lahan subur bagi demokrasi dan kesadaran lingkungan.

Tapi miris. Sungguh miris.

Alih-alih mendukung, justru ada oknum pemerintah yang melarang pemutaran film ini. Bukan di ruang tertutup rapat kabinet, melainkan di ruang publik. Bahkan di kampus tempat gagasan seharusnya mengudara bebas.

Tindakan itu seolah berbisik: "Kami tidak ingin rakyat tahu."

Bukannya mengusut fakta, yang diusut justru filmnya. Bukannya meluruskan data, yang diluruskan adalah tirai larangan.

Bayangkan. Seorang anak muda Papua, yang selama ini merasa suaranya tak pernah sampai ke Jakarta, tiba-tiba melihat ada sineas yang mau merekam kenyataannya. Tapi sebelum film itu selesai diputar, layar ditutup paksa. Proyektor dimatikan. Dan mahasiswa yang ingin belajar tentang lingkungan di tanahnya sendiri, dihambat oleh aparat kampus atas instruksi yang tak jelas ujung pangkalnya.

Ini bukan soal pro atau kontra proyek pemerintah. Ini soal hak publik untuk tahu. Ini soal integritas tata kelola lingkungan yang terbuka. Dan ini soal: apakah negara hadir untuk melindungi warga dan ekosistemnya, atau justru melindungi kekuasaan dari fakta?

Harusnya pemerintah mendukung. Harusnya film seperti Pesta Babi menjadi cermin, bukan musuh. Karena jika kita terus membungkam rekam jejak lingkungan, maka yang mati bukan hanya pepohonan di Papua, melainkan masa depan Indonesia itu sendiri.

Jangan biarkan gaya bicara penguasa menggantikan gaya bicara fakta.

Biarkan Pesta Babi diputar. Biarkan rakyat menonton. Biarkan nurani bangsa yang bekerja—bukan ketakutan.

Comments

Popular posts from this blog

Pak Rektor

"Pada akhirnya kita harus sepakat di koridor kekuasaan: prestasi hanyalah tumpukan debu yang gampang diterbitkan oleh waktu."  KK Ibrah Kita sepakat tentang itu. Bahwa di lorong kekuasaan, prestasi adalah barang mudah usang. Tapi bagi kami yang menyaksikan langsung hidup Kiyai Prof. Hannani, mantan Rektor IAIN Parepare yang baru saja diganti, ada debu yang tak pernah mati. Ada prestasi yang tak bisa diterbitkan oleh waktu maupun kursi. Beliau adalah sosok yang tidak pernah mengenal lelah mengurus umat. Ketika di IAIN Parepare, pulangnya kebanyakan larut malam. Di hari libur pun, beliau sering ke kantor. Semua dilakukan demi satu hal: kemajuan IAIN Parepare. Bukan untuk pujian. Bukan untuk laporan. Tapi karena baginya, mengurus kampus adalah mengurus umat, dan mengurus umat adalah ibadah yang tak mengenal waktu. Di ruang kerjanya, beliau dikenal sangat mendorong karir para dosen. Tak jarang dosen datang berkonsultasi soal kenaikan pangkat hingga guru besar. Dengan santai dan l...

Guru Honorer dan Pegawai MBG

Bayangkan dua orang pekerja di bangunan yang sama. Satu orang bertugas mengecat dinding ruangan baru, dengan seragam lengkap, peralatan memadai, dan kontrak kerja yang jelas. Yang lainnya telah bertahun-tahun menyangga atap bangunan dengan kedua tangannya, berdiri di atas pondasi yang retak, tanpa helm pengaman, dan tak pernah tahu apakah esok masih akan dipanggil bekerja. Keduanya sama-sama penting. Tapi, adilkah perlakuan terhadap mereka? Inilah alegori sederhana dari dua garda terdepan pembangunan manusia Indonesia: Guru Honorer dan Pegawai Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Narasi ini dengan tegas ingin menyampaikan: keduanya bukanlah pihak yang bertentangan. Mempertentangkan mereka ibarat mempertentangkan tangan kanan dan tangan kiri saat membangun; keduanya sama-sama penting, sama-sama dibutuhkan, dan harus sama-sama kuat. Musuh bersama sesungguhnya bukanlah sesama pekerja, melainkan sistem dan kebijakan yang belum sepenuhnya adil dalam memperlakukan semua pekerjanya. Kita semua...

Sudut Pandang

 Ada cara pandang yang diam-diam membentuk seluruh keyakinan kita. Ia tidak terlihat, tetapi menentukan siapa yang kita anggap benar, siapa yang kita anggap salah. Ia bekerja dalam senyap, meresap ke dalam setiap pertimbangan kita, seolah-olah itulah suara akal sehat semata. Padahal, dari tempat yang berbeda, satu peristiwa yang sama persis bisa memiliki makna yang bertolak belakang. Ambillah contoh sederhana di padang savana: bagi seekor rumput, rusa adalah ancaman yang datang setiap hari, menggerogoti daun-daun muda, mengancam kelangsungan hidupnya. Namun, bagi rumput yang sama, singa justru dianggap penjagakarena singa memangsa rusa, memberi ruang bagi rumput untuk tumbuh kembali. Bukan karena kenyataan berubah, tetapi karena posisi yang berbeda melahirkan penilaian yang berbeda. Tidak ada sudut pandang yang netral; setiap kita berdiri di suatu tempat, dan tempat itu mewarnai segala yang kita lihat. Di kehidupan sehari-hari, hal ini terjadi tanpa kita sadari.  Kita sering m...