Rektor Baru
Hari ini adalah hari yang berkesan. Dalam acara pelantikan pimpinan kampus IAIN Parepare, saya disuguhkan dengan momen yang membuat hati bergerak dan pikiran merenung. Ketika mendengar nama Ustas Budiman seorang guru dan orang tua kami dilantik menjadi Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Islam, perasaan kebanggaan berpadu dengan refleksi mendalam tentang makna kepemimpinan dan hikmah di balik setiap keputusan.
Ingatan saya membawa kembali pada sebuah nasehat berharga yang pernah beliau sampaikan. Ketika memasuki momen pilihan presiden beberapa waktu lalu, saya dan mungkin banyak yang lain sempat heran dan bahkan merasa seakan mencelah ketika Kiyai Maruf Amin memutuskan untuk ikut dalam kontestasi. Sebagai seorang ulama terkemuka, keputusannya terasa tidak sejalan dengan ekspektasi sebagian orang. Namun, Ustas Budiman memberikan perspektif yang mengubah sudut pandang saya.
"Kiyai Maruf Amin adalah ulama," beliau berkata dengan tenang. "Pasti ada pertimbangan khusus yang dia pegang. Dan saya rasa itu adalah demi kemaslahatan." Dalam kalimat sederhana itu, terkandung kebijaksanaan yang dalam. Beliau mengajarkan saya untuk tidak menilai suatu keputusan dengan tergesa-gesa, tetapi untuk mempercayai bahwa orang yang memiliki keilmuan dan ketakwaan pasti mempertimbangkan maslahah kemaslahatan umat di balik setiap langkahnya. Saat itu, dalam hati saya berkata, "Oh, ternyata seperti itu." Sebuah pencerahan kecil yang membuka wawasan.
Hari ini, ketika menyaksikan Ustas Budiman dilantik sebagai Dekan, pembelajaran itu kembali berbicara kepada saya. Tidak lama sebelumnya, dalam proses pemilihan rektor kampus, saya melihat Pak Menteri Agama memilih Ibu Darma dibanding Pak Hananni. Dari perspektif kinerja yang saya amati, Pak Hananni tampak memiliki rekam jejak yang lebih mengesankan. Pertanyaan spontan muncul: mengapa pilihan jatuh kepada Ibu Darma?
Namun, kini ketika melihat Ustas Budiman berdiri di posisi barunya, nasehat lama itu beriak kembali di dalam pikiran saya. Mungkin, hanya mungkin, Pak Menteri Agama melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh pandangan kami. Mungkin ada dimensi lain, perspektif yang lebih luas, pertimbangan strategis jangka panjang yang kami belum mampu menangkap. Mungkin ada hikmat tersembunyi dalam keputusan yang pada pandangan permukaan terlihat tidak sesuai dengan harapan.
Ini adalah pelajaran berharga tentang adab dan kerendahan hati. Bukan berarti kita tidak boleh berpikir kritis atau menganalisis keputusan. Namun, ada perbedaan antara berpikir kritis dan menolak dengan percaya diri bahwa pandangan kita adalah satu-satunya kebenaran. Kepemimpinan yang bijaksana tidak selalu dapat dipahami dari perspektif yang terbatas. Seorang pemimpin yang arif mempertimbangkan faktor-faktor yang mungkin tidak terlihat oleh mereka yang berada di level yang berbeda.
Comments
Post a Comment