Skip to main content

Keluarga Harmoni dengan Pertanyaan di Hati

Salah satu kelaurga yang membuat saya terkesan. setiap hari ke Masjid kami untuk melaksanakan shalat berjamaah. Nama samaranya Pak Eko, seorang sales rokok merek ternama. Setiap pagi, dengan setelan rapi, ia berangkat menembus kota untuk menawarkan dagangannya. Istrinya, Ibu Anu, adalah sosok pendamping setia yang mengurus rumah dengan penuh kesabaran dan cinta. Mereka dikaruniai dua putra yang menjadi kebanggaan: kita sebut saja Layla dan Majnun.

Keluarga ini, dalam pandangan tetangga dan kerabat, adalah teladan yang menginspirasi. Setiap waktu sholat, terutama Maghrib dan Isya, mereka hampir tak pernah absen berjalan bersama menuju masjid. Layla dan majnun, dengan seragam putih-putih mereka, sudah hafal beberapa juz Al-Qur'an. Suara lantunan ayat suci mereka kerap terdengar merdu dari dalam rumah, mengisi senja dengan ketenangan. Kedisiplinan, keramahan, dan kehangatan mereka sebagai keluarga sungguh harmonis dan memikat hati siapa pun yang melihatnya.

Namun, di balik harmoni dan kekaguman itu, terselip sebuah pertanyaan besar yang kadang mengusik benak sebuah pertanyaan yang menyentuh ranah prinsipil antara penghidupan dan keyakinan.

Sumber nafkah utama keluarga ini, yang menghidupi pendidikan anak-anaknya, membiayai kebutuhan sehari-hari, dan bahkan mungkin mendukung kegiatan religius mereka, berasal dari penjualan rokok. Padahal, dalam banyak pemahaman keagamaan, rokok sering dikategorikan sebagai makruh, bahkan oleh sebagian ulama dianggap haram karena mudaratnya yang jelas terhadap kesehatan dan pemborosan harta (israf).

Di sinilah letak paradoks yang memantik refleksi mendalam.

Di satu sisi, ada keluarga yang komitmen dengan syiar Islam: anak-anak penghafal Qur'an, ke masjid rutin berjamaah, akhlak terjaga. Mereka seperti hidup dalam "cahaya" yang jelas. Di sisi lain, ada "bayangan" dari sumber ekonomi yang, dalam pandangan sebagian kalangan, dibangun dari sesuatu yang problematik secara agama.

Apakah ini bentuk kontradiksi? Atau justru cermin dari kompleksitas hidup manusia yang berusaha maksimal di tengah keterbatasan pilihan? Mungkin bagi Pak Eko, ini adalah pekerjaan halal yang memberinya rezeki, sambil ia terus berusaha menyeimbangkan dengan amal-amal kebaikan lainnya. Mungkin pula ada pergulatan batin yang ia rasakan, namun dihadapi dengan kesungguhan mendidik generasi yang lebih baik.

Keluarga Pak Eko mengajarkan kita bahwa manusia tidak bisa dinilai dari satu sudut pandang saja. Mereka adalah mosaik dari niat, usaha, realitas ekonomi, dan penghambaan kepada Tuhan. Mereka mengingatkan kita bahwa terkadang, pertanyaan-pertanyaan terberat tentang hakikat 'halal' dan 'baik' justru muncul bukan dari orang yang jauh dari agama, tetapi dari mereka yang berusaha sangat dekat dengannya di tengah kehidupan yang tidak hitam putih.

Akhirnya, yang tersisa adalah kekaguman akan harmoni yang mereka rawat, doa agar anak-anak mereka tumbuh menjadi penyeimbang dan penerang, serta kesadaran bahwa setiap kita memiliki "rokok" kita masing-masing sesuatu dalam hidup yang kita pertanyakan kehalalannya, sambil terus berjalan, beribadah, dan berharap pada ampunan Yang Maha Mengerti.

Comments

Popular posts from this blog

Pak Rektor

"Pada akhirnya kita harus sepakat di koridor kekuasaan: prestasi hanyalah tumpukan debu yang gampang diterbitkan oleh waktu."  KK Ibrah Kita sepakat tentang itu. Bahwa di lorong kekuasaan, prestasi adalah barang mudah usang. Tapi bagi kami yang menyaksikan langsung hidup Kiyai Prof. Hannani, mantan Rektor IAIN Parepare yang baru saja diganti, ada debu yang tak pernah mati. Ada prestasi yang tak bisa diterbitkan oleh waktu maupun kursi. Beliau adalah sosok yang tidak pernah mengenal lelah mengurus umat. Ketika di IAIN Parepare, pulangnya kebanyakan larut malam. Di hari libur pun, beliau sering ke kantor. Semua dilakukan demi satu hal: kemajuan IAIN Parepare. Bukan untuk pujian. Bukan untuk laporan. Tapi karena baginya, mengurus kampus adalah mengurus umat, dan mengurus umat adalah ibadah yang tak mengenal waktu. Di ruang kerjanya, beliau dikenal sangat mendorong karir para dosen. Tak jarang dosen datang berkonsultasi soal kenaikan pangkat hingga guru besar. Dengan santai dan l...

Guru Honorer dan Pegawai MBG

Bayangkan dua orang pekerja di bangunan yang sama. Satu orang bertugas mengecat dinding ruangan baru, dengan seragam lengkap, peralatan memadai, dan kontrak kerja yang jelas. Yang lainnya telah bertahun-tahun menyangga atap bangunan dengan kedua tangannya, berdiri di atas pondasi yang retak, tanpa helm pengaman, dan tak pernah tahu apakah esok masih akan dipanggil bekerja. Keduanya sama-sama penting. Tapi, adilkah perlakuan terhadap mereka? Inilah alegori sederhana dari dua garda terdepan pembangunan manusia Indonesia: Guru Honorer dan Pegawai Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Narasi ini dengan tegas ingin menyampaikan: keduanya bukanlah pihak yang bertentangan. Mempertentangkan mereka ibarat mempertentangkan tangan kanan dan tangan kiri saat membangun; keduanya sama-sama penting, sama-sama dibutuhkan, dan harus sama-sama kuat. Musuh bersama sesungguhnya bukanlah sesama pekerja, melainkan sistem dan kebijakan yang belum sepenuhnya adil dalam memperlakukan semua pekerjanya. Kita semua...

Sudut Pandang

 Ada cara pandang yang diam-diam membentuk seluruh keyakinan kita. Ia tidak terlihat, tetapi menentukan siapa yang kita anggap benar, siapa yang kita anggap salah. Ia bekerja dalam senyap, meresap ke dalam setiap pertimbangan kita, seolah-olah itulah suara akal sehat semata. Padahal, dari tempat yang berbeda, satu peristiwa yang sama persis bisa memiliki makna yang bertolak belakang. Ambillah contoh sederhana di padang savana: bagi seekor rumput, rusa adalah ancaman yang datang setiap hari, menggerogoti daun-daun muda, mengancam kelangsungan hidupnya. Namun, bagi rumput yang sama, singa justru dianggap penjagakarena singa memangsa rusa, memberi ruang bagi rumput untuk tumbuh kembali. Bukan karena kenyataan berubah, tetapi karena posisi yang berbeda melahirkan penilaian yang berbeda. Tidak ada sudut pandang yang netral; setiap kita berdiri di suatu tempat, dan tempat itu mewarnai segala yang kita lihat. Di kehidupan sehari-hari, hal ini terjadi tanpa kita sadari.  Kita sering m...