Skip to main content

Kisah Kak Titi dan Kak Sastra

Hari ini, kami berempat saya, Kak Titi, Kak Sastra, dan Kak Darma akhirnya mewujudkan rencana healing kecil-kecilan yang awalnya digagas atas nama Karang Taruna. Meski hanya segelintir yang bisa hadir, kebersamaan ini justru terasa lebih hangat dan dalam.

Dalam lingkaran itu, sayalah yang termuda dan satu-satunya yang belum menikah. Perjalanan kami penuh dengan obrolan beragam, namun yang paling mengendap di hati adalah ketika mereka membuka lembaran-lembaran ujian pasca-pernikahan yang pernah mereka lalui.

Kak Titi memulai dengan cerita awal rumah tangganya yang sangat sederhana. Puncak ujiannya terjadi saat mereka harus pulang dari Parepare ke Lembang. Saat itu, uang yang mereka punya hanya Rp 35.000. Di tengah jalan, ban motornya meletus. Dengan kondisi pas-pasan, mereka bersikeras untuk cukup ditambal saja, khawatir tidak cukup jika harus mengganti baru. Apalagi bensin pun belum diisi. Namun, nasib berkata lain. Ban itu kembali meletus, dan mengganti menjadi satu-satunya pilihan.

Kak Titi, yang kala itu menggendong anak kecil dan sedang hamil, menangis sesenggukan di pinggir jalan. Rasanya dunia seperti runtuh. Mereka sebenarnya bisa meminta bantuan orang tua, tetapi ada komitmen awal: "Selama masih bisa diusahakan, jangan libatkan orang tua." Dengan mata yang masih sembap, Kak Titi memberanikan diri menelepon seorang teman. Alhamdulillah, pertolongan datang. Kisah itu bukan sekadar cerita kemiskinan, tapi tentang harga diri, komitmen, dan kepasrahan yang berujung pada jalan yang tak terduga. "Selain selingkuh dan memukul," ujar Kak Titi dengan tenang, "insya Allah semuanya bisa dilalui."

Ceritanya seperti konfirmasi bagi teori yang selama ini saya pegang: di balik ketegaran dan senyum lebar seseorang, seringkali tersimpan ujian-ujian berat yang mungkin tak ingin mereka beberkan. Senyuman itu adalah pilihan, sekaligus bukti bahwa mereka telah berhasil melintasi badai.

Kemudian, giliran Kak Sastra bercerita. Berpenampilan gondrong dan berhati lembut, tantangan terberatnya juga datang dari ekonomi yang belum stabil. Pernah ada hari di mana istri dan anaknya tidak makan seharian. Dalam keputusasaan, ia meminta bantuan pada teman dekat, dan lagi-lagi, pertolongan Allah datang dari sana. Yang lebih menyentuh justru pengakuannya tentang saudaranya sendiri yang sukses secara materi, namun bantuan yang ia terima justru lebih banyak dari orang lain. Saat menceritakan ini, saya melihat jelas mata Kak Sastra berkaca-kaca. Air mata itu bukan hanya tentang masa sulit, tapi juga tentang ironi, rasa syukur, dan mungkin, sedikit luka yang tak terucap.

Dua kisah yang berbeda, namun sama-sama mengajarkan tentang resiliensi, martabat, dan arti sebenarnya dari "cukup" dan "saling menjaga".

Dan hari ini, Alhamdulillah, kami duduk bersama. Mobil Kak Titi yang kami tumpangi adalah saksi bisu perjalanan panjangnya dari motor yang sering mogok. Ia dengan sukacita mentraktir kami durian dan bakso. Setiap suap bakso dan setiap biji durian terasa seperti simbol kecil dari sebuah kemenangan—atas kesulitan, atas rasa malu, atas air mata di pinggir jalan.

Healing kali ini bukan tentang pergi ke tempat yang jauh atau wah. Ini tentang mendengar, tentang melihat langsung bahwa di balik senyuman hangat dan tawa ringan, ada sejarah hidup yang membentuknya. Dan itu, jauh lebih menyembuhkan daripada sekadar pemandangan. Terima kasih, Kak Titi, Kak Sastra, dan Kak Darma, untuk cerita dan traktirannya. Ini adalah pelajaran hidup yang tak ternilai.

Comments

Popular posts from this blog

Pak Rektor

"Pada akhirnya kita harus sepakat di koridor kekuasaan: prestasi hanyalah tumpukan debu yang gampang diterbitkan oleh waktu."  KK Ibrah Kita sepakat tentang itu. Bahwa di lorong kekuasaan, prestasi adalah barang mudah usang. Tapi bagi kami yang menyaksikan langsung hidup Kiyai Prof. Hannani, mantan Rektor IAIN Parepare yang baru saja diganti, ada debu yang tak pernah mati. Ada prestasi yang tak bisa diterbitkan oleh waktu maupun kursi. Beliau adalah sosok yang tidak pernah mengenal lelah mengurus umat. Ketika di IAIN Parepare, pulangnya kebanyakan larut malam. Di hari libur pun, beliau sering ke kantor. Semua dilakukan demi satu hal: kemajuan IAIN Parepare. Bukan untuk pujian. Bukan untuk laporan. Tapi karena baginya, mengurus kampus adalah mengurus umat, dan mengurus umat adalah ibadah yang tak mengenal waktu. Di ruang kerjanya, beliau dikenal sangat mendorong karir para dosen. Tak jarang dosen datang berkonsultasi soal kenaikan pangkat hingga guru besar. Dengan santai dan l...

Guru Honorer dan Pegawai MBG

Bayangkan dua orang pekerja di bangunan yang sama. Satu orang bertugas mengecat dinding ruangan baru, dengan seragam lengkap, peralatan memadai, dan kontrak kerja yang jelas. Yang lainnya telah bertahun-tahun menyangga atap bangunan dengan kedua tangannya, berdiri di atas pondasi yang retak, tanpa helm pengaman, dan tak pernah tahu apakah esok masih akan dipanggil bekerja. Keduanya sama-sama penting. Tapi, adilkah perlakuan terhadap mereka? Inilah alegori sederhana dari dua garda terdepan pembangunan manusia Indonesia: Guru Honorer dan Pegawai Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Narasi ini dengan tegas ingin menyampaikan: keduanya bukanlah pihak yang bertentangan. Mempertentangkan mereka ibarat mempertentangkan tangan kanan dan tangan kiri saat membangun; keduanya sama-sama penting, sama-sama dibutuhkan, dan harus sama-sama kuat. Musuh bersama sesungguhnya bukanlah sesama pekerja, melainkan sistem dan kebijakan yang belum sepenuhnya adil dalam memperlakukan semua pekerjanya. Kita semua...

Sudut Pandang

 Ada cara pandang yang diam-diam membentuk seluruh keyakinan kita. Ia tidak terlihat, tetapi menentukan siapa yang kita anggap benar, siapa yang kita anggap salah. Ia bekerja dalam senyap, meresap ke dalam setiap pertimbangan kita, seolah-olah itulah suara akal sehat semata. Padahal, dari tempat yang berbeda, satu peristiwa yang sama persis bisa memiliki makna yang bertolak belakang. Ambillah contoh sederhana di padang savana: bagi seekor rumput, rusa adalah ancaman yang datang setiap hari, menggerogoti daun-daun muda, mengancam kelangsungan hidupnya. Namun, bagi rumput yang sama, singa justru dianggap penjagakarena singa memangsa rusa, memberi ruang bagi rumput untuk tumbuh kembali. Bukan karena kenyataan berubah, tetapi karena posisi yang berbeda melahirkan penilaian yang berbeda. Tidak ada sudut pandang yang netral; setiap kita berdiri di suatu tempat, dan tempat itu mewarnai segala yang kita lihat. Di kehidupan sehari-hari, hal ini terjadi tanpa kita sadari.  Kita sering m...