Tia

Namanya Tia. Salah satu anak mengaji yang saya ajar. Kesehariannya bisa dibilang lumayan nakal, bandel, dan seringkali sulit diatur. Saya seringkali harus menghela napas panjang menghadapi tingkahnya. Dari tidak mau diam saat mengaji, hingga kerap memancing teman-temannya untuk bermain. 

Namun, pernah suatu ketika, ibu saya sakit. Cukup parah sehingga saya harus segera pulang ke kampung. Sebelum berangkat, saya pamitan pada anak-anak mengaji. Bukan hanya sekadar pamit, tapi juga meminta doa. Saya bilang pada mereka, "Tolong doakan ya, semoga ibu saya lekas sembuh."

Mereka pun mengangguk, ada yang mengucapkan "aamiin" dengan polosnya. Tapi apa yang terjadi selanjutnya sungguh di luar dugaan.

Tia, anak yang biasa saya tegur karena nakal itu, tiba-tiba mendekati saya. Ia meraih tangan saya, lalu menciumnya. Kemudian, dengan gerak cepat, ia menyelipkan sesuatu ke telapak tangan saya. Selembar uang dua puluh ribuan.

Saya terperangah.

"Belikan bensin, Ustaz," ucapnya lirih, dengan senyum yang jarang sekali saya lihat.

Saya sontak menolak. "Tia, janganmi."

Saya mencoba mengembalikan uang itu, tapi Tia sudah lebih dulu memasukkan uang tersebut ke saku samping jok motor. Persis di kantong motor yang biasa saya pakai menyimpan kunci.

Saya terdiam. Hanya bisa memandangi uang dua puluh ribu yang terlipat rapi di kantong motor. Di perjalanan pulang, hati saya terharu dan merasa bersalah. Bukan karena angin sore yang menyengat, tapi karena haru yang tak terbendung. Air mata saya hampir jatuh di atas helm.

Di tengah rasa haru itu, tiba-tiba saya dilanda rasa bersalah yang luar biasa.

"Ya Allah..." gumam saya dalam hati.

Betapa seringnya saya merasa kesal pada Tia. Betapa seringnya saya memarahinya, bahkan kadang-kadang sampai kehilangan kesabaran karena kenakalannya. Saya pikir Tia hanyalah anak bandel yang sulit diatur. Tapi pada kondisi saat saya paling butuh. Saat ibu saya sakit dan saya harus ongkos pulang justru Tia, si anak nakal itu, yang tergerak hatinya untuk membantu saya.

Dengan uang jajannya. Dengan ketulusan yang tanpa syarat.

Sejak saat itu, saya belajar satu hal: bahwa kebaikan tidak pernah memandang siapa dirinya. Bahwa anak yang paling kita nilai "nakal" sekalipun, bisa menyimpan hati yang begitu mulia. 


Comments

Popular posts from this blog

Pak Rektor

Kecewa Boleh, Lelah Mencintai Indonesia Jangan

Zakat, Wakaf, dan Pajak: Instrumen Sosial dengan Tujuan dan Hakikat yang Berbeda