Firasat dan Kejujuran Seorang Intel

Bulan Ramadan selalu menghadirkan berkah tak terduga. Beberapa hari lalu, Masjid Syamsul Uqla, tempat kami biasa bermunajat, mendapat kehormatan dikunjungi Wali Kota Parepare dalam rangka safari Ramadan. Tapi sebelum rombongan beliau tiba, ada peristiwa kecil yang justru meninggalkan kesan mendalam bagi saya.

Saat itu siang hari. Usai menunaikan salat zuhur, kami masih duduk bersantai di serambi masjid. Di luar, seorang pria datang sendirian. Penampilannya rapi, dengan langkah mantap seorang yang terbiasa dengan tugas lapangan. Ia memperkenalkan diri seorang polisi. Katanya, ia datang untuk mengecek kondisi masjid, memastikan kesiapan tempat sebelum kedatangan wali kota.

Saya menyambutnya. Namun, ketika mata kami bertemu, entah mengapa ada firasat aneh yang langsung menghampiri hati saya. Ada sesuatu di sorot matanya. Bukan sorot mata biasa yang saya lihat pada kebanyakan aparat yang datang bertugas. Ada bayang-bayang kelam di sana seperti jejak masa lalu yang sulit dilupakan. Dalam hati saya bergumam, "Kemungkinan polisi ini dulu pernah terlibat sabu-sabu."

Saya tidak menyangka bahwa firasat itu akan terbukti secepat itu.

Kami berbincang. Entah karena suasana Ramadan yang begitu syahdu, atau karena masjid ini memang menjadi tempat orang melepas beban, pak polisi itu berbicara dengan sangat terbuka. Bahkan dengan polosnya, ia sendiri yang mengungkapkan masa lalunya.

Ternyata benar. Dulu, beliau adalah pemakai aktif sabu-sabu.

Saya terperangah. Bukan karena masa lalunya, tapi karena kejujuran yang luar biasa. Dengan sukarela, ia menceritakan hal itu kepada saya orang yang sama sekali tidak dikenalnya. Tanpa beban, tanpa malu-malu. Hanya kejujuran polos yang mengalir dari seorang yang telah benar-benar berdamai dengan masa lalunya.

Dalam hati saya kembali bergumam, "Ternyata benar firasatku." dan ini terjadi bukan sekali tetapi sudah berkali-kali

Tapi ada dua hal yang membuat saya semakin kagum.

Pertama, kejujurannya. Di zaman seperti sekarang, ketika orang begitu mudah menyembunyikan aibnya sendiri, beliau justru dengan lapang menceritakan gelapnya masa lalu. Bahkan kepada orang asing. Bagi saya, itu bukan sekadar kejujuran biasa. Itu adalah bukti bahwa beliau telah benar-benar merdeka dari rasa takut dan beban dosa.

Kedua, perjalanannya kembali ke jalan yang lurus. Saya penasaran. "Apa yang membuat Bapak bisa berbalik ke kebenaran?" tanya saya.

Maka beliau pun bercerita tentang titik balik dalam hidupnya. Ternyata, salah satu berkah terbesar datang ketika beliau ditugaskan di wilayah Guru Sekumpul. Setiap hari, telinganya dibiasakan dengan lantunan shalawat, ayat-ayat suci Al-Qur'an yang merdu, dan irama hadrah yang menggema di malam hari.

Suara-suara itu, kata beliau, seperti palu yang terus-menerus mengetuk pintu hatinya yang selama ini terkunci. Hari demi hari, getaran shalawat itu merambat ke relung jiwanya yang paling dalam. Hingga suatu ketika, pintu itu terbuka. Tidak ada peristiwa dramatis, tidak ada keajaiban besar. Hanya suara-suara keberkahan yang terus menerus ia dengar, yang perlahan-lahan mengikis kerasnya hati.

Mulailah beliau melangkah ke masjid. Satu langkah, dua langkah, hingga akhirnya shalat menjadi kebutuhan, dan hidayah menjadi pelita yang menerani jalannya keluar dari kegelapan.

Saya terdiam mendengarnya.

Di hadapan saya, duduk seorang polisi yang sekarang bertugas menjaga keamanan. Tapi bukan hanya keamanan kota yang ia jaga. ia juga telah menjaga keselamatan dirinya sendiri dengan kembali ke jalan Tuhan. Dan di bulan Ramadan ini, ia datang ke masjid kami bukan sebagai orang yang sempurna, tetapi sebagai seorang yang jujur bahwa kesempurnaan adalah hasil dari perjalanan panjang yang penuh pertobatan.

Saya hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepala takjub. Masjid Syamsul Uqla yang sunyi itu seolah menjadi saksi bisu sebuah pertemuan singkat yang penuh makna. seorang intel jujur yang mengajarkan bahwa masa lalu bukanlah akhir segalanya, dan kejujuran adalah pakaian terindah bagi siapa pun yang ingin kembali kepada-Nya.

Comments

Popular posts from this blog

Pak Rektor

Kecewa Boleh, Lelah Mencintai Indonesia Jangan

Zakat, Wakaf, dan Pajak: Instrumen Sosial dengan Tujuan dan Hakikat yang Berbeda