Skip to main content

Antara Ritual Sunni dan Akal Syiah

 Seorang yang lahir dari dua tradisi besar.

Secara ritual, ia adalah Sunni. Ia dibesarkan dengan tata cara salat yang kaffah. tangan bersedekap di dada, bacaan-bacaan yang mengalir dari hafalan masa kecil, dan doa qunut di waktu subuh yang membasahi mata. Ia mengenal puasa dengan imsak sebagai penanda, zakat fitrah dengan takaran yang diajarkan kakek, dan haji dengan manasik yang disimulasikan sejak kecil. Semua itu dijalani bukan sekadar kebiasaan, melainkan dengan kesadaran penuh bahwa inilah jalan yang ditempuh oleh mayoritas umat Islam di negeri ini.

Namun dalam pikirannya, ia adalah Syiah.

Bukan Syiah yang sempit dan dogmatis, melainkan Syiah yang cerdas. Syiah yang mengajarkan untuk tidak pernah berhenti bertanya. Syiah yang membukakan mata bahwa agama tak bisa dilepaskan dari keadilan. Syiah yang membuatnya memahami bahwa kepemimpinan spiritual bukan sekadar urusan duniawi, melainkan fondasi moral yang menentukan arah umat.

Ia belajar dari pemikiran Syiah tentang imamah bahwa setiap zaman butuh sosok penuntun yang adil dan tak sekadar berkuasa. Ia terpikat pada logika Syiah bahwa kebenaran tidak bisa dikompromikan hanya karena suara mayoritas. Ia mengagumi bagaimana Syiah menjunjung tinggi akal ('aql) sebagai hujah internal Tuhan, sama pentingnya dengan wahyu.

Dan di situlah kecerdasan bekerja.

Tidak terjebak dalam dikotomi hitam-putih. Ritual Sunni yang diyakini sahih secara historis dan amaliah, disemarakkan dengan spirit Syiah yang terus-menerus menggugat, merenung, dan mencari esensi. Salat sebagaimana sunnah diajarkan, namun di setiap sujud, terasa denyut perlawanan terhadap segala bentuk ketidakadilan seperti yang diajarkan oleh para imam Ahlul Bait.

Puasa menahan lapar dan dahaga, namun juga berpuasa menahan lidah dari menyebut sesat mereka yang berbeda jalan, karena pemikiran Syiah mengajarkan bahwa rahmat Tuhan melampaui segala sekat.

Zakat dibayar dengan hitungan yang diajarkan Sunni, namun hati berdetak dengan kesadaran Syiah bahwa harta yang tidak disertai keadilan sosial adalah dosa yang nyata.

Inilah sosok itu.

Seorang Muslim yang ritualnya Sunni, pemikirannya Syiah, dan keduanya dijalani dengan akal yang tak pernah puas hanya pada kulit luar. Tidak butuh diakui sebagai Sunni tulen atau Syiah tulen. Hanya butuh menjadi hamba yang jujur. jujur dalam menjalankan ibadah, jujur dalam berpikir, dan jujur bahwa Tuhan Maha Mengetahui apa yang tak terlihat oleh manusia.

Kecerdasan bukan untuk memenangkan satu mazhab atas mazhab lain. Kecerdasan adalah kemampuan untuk tetap berdiri di atas dua kaki yang berbeda, namun melangkah menuju arah yang sama: keridhaan Allah.

Comments

Popular posts from this blog

Pak Rektor

"Pada akhirnya kita harus sepakat di koridor kekuasaan: prestasi hanyalah tumpukan debu yang gampang diterbitkan oleh waktu."  KK Ibrah Kita sepakat tentang itu. Bahwa di lorong kekuasaan, prestasi adalah barang mudah usang. Tapi bagi kami yang menyaksikan langsung hidup Kiyai Prof. Hannani, mantan Rektor IAIN Parepare yang baru saja diganti, ada debu yang tak pernah mati. Ada prestasi yang tak bisa diterbitkan oleh waktu maupun kursi. Beliau adalah sosok yang tidak pernah mengenal lelah mengurus umat. Ketika di IAIN Parepare, pulangnya kebanyakan larut malam. Di hari libur pun, beliau sering ke kantor. Semua dilakukan demi satu hal: kemajuan IAIN Parepare. Bukan untuk pujian. Bukan untuk laporan. Tapi karena baginya, mengurus kampus adalah mengurus umat, dan mengurus umat adalah ibadah yang tak mengenal waktu. Di ruang kerjanya, beliau dikenal sangat mendorong karir para dosen. Tak jarang dosen datang berkonsultasi soal kenaikan pangkat hingga guru besar. Dengan santai dan l...

Guru Honorer dan Pegawai MBG

Bayangkan dua orang pekerja di bangunan yang sama. Satu orang bertugas mengecat dinding ruangan baru, dengan seragam lengkap, peralatan memadai, dan kontrak kerja yang jelas. Yang lainnya telah bertahun-tahun menyangga atap bangunan dengan kedua tangannya, berdiri di atas pondasi yang retak, tanpa helm pengaman, dan tak pernah tahu apakah esok masih akan dipanggil bekerja. Keduanya sama-sama penting. Tapi, adilkah perlakuan terhadap mereka? Inilah alegori sederhana dari dua garda terdepan pembangunan manusia Indonesia: Guru Honorer dan Pegawai Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Narasi ini dengan tegas ingin menyampaikan: keduanya bukanlah pihak yang bertentangan. Mempertentangkan mereka ibarat mempertentangkan tangan kanan dan tangan kiri saat membangun; keduanya sama-sama penting, sama-sama dibutuhkan, dan harus sama-sama kuat. Musuh bersama sesungguhnya bukanlah sesama pekerja, melainkan sistem dan kebijakan yang belum sepenuhnya adil dalam memperlakukan semua pekerjanya. Kita semua...

Sudut Pandang

 Ada cara pandang yang diam-diam membentuk seluruh keyakinan kita. Ia tidak terlihat, tetapi menentukan siapa yang kita anggap benar, siapa yang kita anggap salah. Ia bekerja dalam senyap, meresap ke dalam setiap pertimbangan kita, seolah-olah itulah suara akal sehat semata. Padahal, dari tempat yang berbeda, satu peristiwa yang sama persis bisa memiliki makna yang bertolak belakang. Ambillah contoh sederhana di padang savana: bagi seekor rumput, rusa adalah ancaman yang datang setiap hari, menggerogoti daun-daun muda, mengancam kelangsungan hidupnya. Namun, bagi rumput yang sama, singa justru dianggap penjagakarena singa memangsa rusa, memberi ruang bagi rumput untuk tumbuh kembali. Bukan karena kenyataan berubah, tetapi karena posisi yang berbeda melahirkan penilaian yang berbeda. Tidak ada sudut pandang yang netral; setiap kita berdiri di suatu tempat, dan tempat itu mewarnai segala yang kita lihat. Di kehidupan sehari-hari, hal ini terjadi tanpa kita sadari.  Kita sering m...