EGO
Hidup ini jauh dari kata sempurna. Titik terendah dalam hidup pasti pernah ada, kan? Tapi mungkin orang tidak melihatnya karena ada ego yang cukup tinggi. Bukan ego yang sombong, tapi ego yang membuat tidak ingin terlihat lemah. Ego yang membuat memilih untuk tetap berdiri meskipun di dalam hati sedang hancur.
Stres, amarah, dan kelelahan yang menumpuk terasa. Ada hari-hari di mana semuanya terasa terlalu berat. Ada malam-malam di mana hanya terdiam, bertanya-tanya sampai kapan harus bertahan. Tapi tidak pernah benar-benar tenggelam. Kenapa? Karena ada filosofi hidup yang dipegang teguh: pilihan hidup ada di tangan kita sendiri.
Kalau memilih untuk tenggelam dan larut dalam depresi karena apa pun yang dialami, pada akhirnya hanya bisa menyalahkan diri sendiri. Lalu, kenapa tidak memilih untuk berkembang? Bisa memilih untuk bangkit, sesulit apa pun jalannya. Berjuang, mendorong semua frustasi dan rintangan yang ada, lalu terus melangkah maju. Bukan karena jalannya mudah, tapi karena berhenti bukanlah pilihan.
Sadar, tidak ada yang bisa mengubah perasaan selain diri sendiri. Bukan siapa-siapa. Bukan orang tua, bukan sahabat, bukan pasangan. Mereka bisa mendukung, tapi pada akhirnya diri sendirilah yang harus memutuskan untuk bangun dari keterpurukan ini. Kalau merasa kurang sukses, kurang segalanya, itu adalah tanggung jawab untuk bergerak. Bukan menunggu, bukan menyalahkan keadaan. Tidak bisa terus-terusan menjadi korban dari situasi yang sebenarnya punya kuasa untuk mengubahnya.
Ada satu filosofi lain yang selalu dibawa: cukup senyuman yang dibagikan, kesusahan jangan. Bukan karena berpura-pura kuat, tapi karena tidak ingin membebani orang lain dengan beban yang sebenarnya harus diselesaikan sendiri. Bukan karena tidak percaya pada mereka, tapi karena percaya bahwa mampu melewati ini dengan cara sendiri. Tahu, setiap orang punya pergumulannya masing-masing. Tidak adil rasanya jika menumpahkan semua kesedihan kepada mereka yang juga sedang berjuang.
Tapi jangan salah. Bukan berarti tidak pernah merasa lelah. Lelah. Marah. Stres. Pernah berada di titik di mana semuanya terasa gelap. Hanya saja, memilih untuk tidak menetap di sana. Membiarkan diri merasakan sakitnya, tapi tidak membiarkan rasa sakit itu menjadi tempat tinggal. Membiarkan amarah itu datang, tapi tidak membiarkannya mengendalikan tindakan.
Setiap kali merasa ingin menyerah, selalu mengingatkan diri sendiri: ini adalah hidup. Yang memilih, yang menjalani, yang bertanggung jawab.
Memilih untuk tetap berdiri. Bukan karena kuat setiap saat, tapi karena tahu bahwa satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan adalah diri sendiri. Memilih untuk bangkit, meskipun rasanya berat. Memilih untuk tersenyum, meskipun dalam perjalanan masih banyak yang harus diperbaiki. Memilih untuk terus melangkah, meskipun langkah ini terasa kecil dan lambat.
Pada akhirnya, percaya bahwa setiap perjuangan yang dilewati sendiri akan membentuk versi terbaik dari diri. Dan ketika suatu hari nanti benar-benar sampai di tempat yang diimpikan, akan tersenyum bukan karena tidak pernah jatuh, tapi karena memilih untuk terus bangkit setiap kali terjatuh.
Comments
Post a Comment