Iran dan Amerika
Untuk memahami denyut nadi konflik yang membara antara Amerika Serikat dan Iran saat ini, kita harus terlebih dahulu dengan sengaja membuang narasi usang yang selama puluhan tahun dibingkai sebagai pertarungan kuno antara Islam dan Yahudi, atau antara nilai-nilai Barat dan Timur Tengah, karena sesungguhnya kita sedang menyaksikan sebuah tontonan geopolitik yang jauh lebih dalam dan lebih tua dari agama-agama yang kita kenal sekarang. Kita sedang melihat bagaimana bayangan dua imperium besar dari masa pra-Islam Romawi dan Persia hidup kembali dan merasuk ke dalam kebijakan ekonomi serta strategi global kedua negara, bukan dalam bentuk legiun berpedang atau para pendeta dengan kitab suci, melainkan melalui sanksi moneter yang menghancurkan, blokade laut yang mencekik, aliansi dagang yang licin, dan perebutan jalur perdagangan yang sama sekali tidak berurat akar pada dogma keagamaan, melainkan pada hasrat paling primitif manusia: kekuasaan atas sumber daya dan kekayaan.
Amerika Serikat, dalam narasi panjang sejarah ini, secara struktural mewarisi taktik dan pola pikir Kekaisaran Romawi di masa jayanya. Romawi kuno tidak membangun imperiumnya dengan misi menyebarkan agama tertentu, karena mereka sendiri adalah masyarakat pagan yang kemudian menoleransi berbagai kepercayaan demi stabilitas fiskal. Yang mereka kejar adalah kendali atas Laut Tengah, jalur perdagangan, dan sumber daya. Amerika Serikat melakukan hal yang persis sama dengan instrumen modern. Ia membangun Pax Americana sebuah perdamaian yang dipaksakan demi kepentingan ekonominya di atas fondasi dolar Amerika sebagai denarius modern, mata uang yang diterima di seluruh pelosok dunia bukan karena keindahan desainnya, tetapi karena kekuatan militer dan pengaruh politik yang menjaminnya. Washington memastikan bahwa minyak bumi, darah kehidupan ekonomi global, hanya boleh mengalir dalam mata uangnya, sebuah mekanisme yang dikenal sebagai petrodolar, dan bahwa stabilitas kawasan penghasil minyak harus diatur dari pusat kekuasaannya, persis seperti Romawi yang menjadikan Laut Tengah sebagai Mare Nostrum Laut Kita dan tidak mentoleransi kekuatan besar lain yang mengganggu jalur perdagangannya. Ketika AS menjatuhkan sanksi ekonomi yang sangat keras terhadap Iran, yang dilakukannya adalah praktik pengepungan modern: memutus pasokan makanan ekonomi musuh, mengeringkan sumber devisa, dan melumpuhkan kemampuannya untuk berdagang dengan dunia luar, semua dilakukan tanpa perlu mengirim ribuan tentara ke medan perang, sebuah efisiensi kekuasaan yang sangat Romawi.
Di sisi lain, Iran modern memainkan peran yang sangat mirip dengan Kekaisaran Persia kuno, khususnya dinasti Sassaniyah yang selama berabad-abad menjadi duri dalam daging Romawi. Persia kuno kaya raya bukan semata-mata karena luasnya padang rumput atau banyaknya rakyat, tetapi karena posisinya yang strategis di jantung Jalur Sutra, menjadi gerbang wajib antara peradaban Timur di China dan India dengan peradaban Barat di Eropa. Iran masa kini melakukan persis hal itu: ia tidak lagi menguasai Jalur Sutra darat, tetapi ia duduk di atas Selat Hormuz, sebuah titik sempit berbentuk bulan sabit yang dilalui oleh sekitar sepertiga dari seluruh perdagangan minyak dunia melalui laut. Ini adalah Jalur Sutra versi modern, dan Iran paham betul bahwa meskipun produk domestik brutonya hanya sepersekian kecil dari ekonomi Amerika, ia memiliki "pisau di leher" ekonomi global. Ketika para jenderal Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz, itu bukanlah seruan jihad dalam arti religius, melainkan sebuah pernyataan strategis murni: "Jika kalian cegat kafilah dagangku, maka akan aku bakar karavan kalian di depan pintu gerbang kota." Ini adalah bahasa Persia kuno yang diucapkan dengan akselerasi modern.
Lebih jauh lagi, strategi Iran dalam membangun jaringan proksi di Yaman, Suriah, Irak, dan Lebanon adalah replika sempurna dari kebijakan Persia kuno yang menggunakan negara-negara klien di perbatasan sebagai bantalan untuk menyerap gempuran legiun Romawi. Hizbullah di Lebanon, milisi Hashd al-Shaabi di Irak, atau gerakan Houthi di Yaman, dalam kerangka ini, berfungsi layaknya kerajaan-kerajaan kecil yang setia kepada Persia di masa lalu: mereka adalah instrumen untuk melemahkan musuh dari jarak jauh, membuat harga yang harus dibayar Roma untuk menyerang Persia menjadi sangat mahal, dan memastikan bahwa medan perang tidak pernah berada di jantung negeri sendiri. Ini adalah strategi ekonomi-perang yang cerdas: dengan mendanai proksi, Iran menghabiskan jauh lebih sedikit dibandingkan biaya yang harus dikeluarkan Amerika untuk melawan mereka di lima front berbeda.
Di sinilah kita harus menekankan dengan sangat jelas bahwa agama dan retorika ideologi, baik itu bendera "Yahudi" yang dikaitkan dengan dukungan AS kepada Israel, maupun panji "Islam Syiah" yang diusung oleh rezim Tehran, hanyalah topeng-topeng yang dipasang dengan rapi di atas panggung sandiwara internasional untuk meriahkan pertunjukan dan membangkitkan emosi massa. Jika kita mengupas lapisan demi lapisan retorika ini, yang kita temukan di bawahnya adalah otot ekonomi yang telanjang dan berdenyut. Ketika Amerika menjatuhkan sanksi dan mengerahkan kapal induk ke Teluk Persia, keputusan itu dibuat di ruang-ruang rapat Departemen Keuangan dan Pentagon berdasarkan perhitungan arus minyak, stabilitas harga energi global, dan perlindungan nilai tukar dolar, bukan berdasarkan diskusi teologis di seminari-seminari. Sebaliknya, ketika para pemimpin Iran berbicara tentang perlawanan terhadap kesombongan global, mereka sedang menerjemahkan kebutuhan nasional untuk membuka blokade ekonomi, mencari pasar baru bagi minyak mereka, dan mempertahankan nilai mata uang riyal yang terpuruk—semua itu adalah masalah ekonomi yang dibungkus dengan jubah heroik perlawanan.
Bahkan konflik di Yaman, yang sering dibingkai sebagai perang sektarian antara Syiah dan Sunni, jika dilihat dari ketinggian elang, adalah sebuah perang proksi untuk menguasai jalur pelayaran di Laut Merah dan selat Bab el-Mandeb, yang juga merupakan titik cekik vital bagi perdagangan global. Negara-negara Teluk yang kaya, seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, terlibat bukan karena mereka tiba-tiba menjadi teolog yang bersemangat, tetapi karena rute perdagangan mereka terancam. Inilah benturan dua tatanan yang tak kunjung usai dan terus berulang melampaui agama apa pun di satu sisi, Romawi modern yang ingin dunia terintegrasi dalam satu pusat kekuasaan moneter dan militer, dan di sisi lain, Persia modern yang menolak asimilasi ke dalam sistem itu, memilih menjadi poros tandingan dengan mengandalkan letak geografis dan jaringan aliansi yang rumit.
Pada akhirnya, drama yang kita saksikan di Selat Hormuz, di ruang sidang PBB, atau dalam perundingan rahasia di Wina, adalah drama peradaban yang sudah dimainkan selama ribuan tahun. Minyak dan uang adalah darah yang terus mengalir di tubuh konflik ini, sementara simbol-simbol keagamaan kubah masjid, menara gereja, atau bintang Daud hanyalah pakaian yang dikenakan oleh para aktor untuk menyembunyikan denyut nadi ekonomi yang sesungguhnya. Dan selama Selat Hormuz masih menjadi urat nadi energi dunia, dan selama dolar masih menjadi alat tukar utama minyak, bayangan Romawi dan Persia akan terus berbisik di telinga para pemimpin di Washington dan Tehran, mengingatkan mereka bahwa ini bukanlah perang suci, melainkan kelanjutan dari perebutan kekuasaan ekonomi yang sudah berlangsung sejak manusia pertama kali menyadari bahwa siapa pun yang mengendalikan jalur rempah dan sutra, maka dialah yang akan menulis sejarah.
Comments
Post a Comment