Skip to main content

Anggap Saja Kita yang Salah Dengar

Ada fase dalam hidup saya ketika perhatian terhadap bacaan al-Qur'an begitu tajam. Saya tahu, salah harakat bisa mengubah makna. Maka setiap kali ada yang membaca, telinga saya siaga, bukan untuk tenggelam dalam makna, tapi untuk mengaudit tajwid dan makhraj.

Suatu maghrib, saya shalat di masjid tanpa imam tetap. Seorang bapak berdiri, dan shalat pun dimulai. Bacaan imam tidak sempurna. Ada yang terasa janggal di telinga saya.

Sepanjang menjadi makmum, saya fokus pada "kesalahan" imam, bukan pada Allah atau makna ayat. Setelah salam, saya langsung ulangi shalat di pojok masjid.

Di rumah, dengan sedikit rasa bangga, saya ceritakan pada guru kami sambil menirukan bacaan imam tadi. Guru hanya tersenyum dan berkata, "Lain kali, nggak usah kamu ulangi shalat kamu."

"Salah bacaannya, Abah... shalatnya nggak sah."

Beliau menjawab pelan, "Anggap saja kamu yang salah dengar tadi."

Jawaban itu sederhana, namun menampar ego saya. Sejak itu saya belajar, tidak semua yang terdengar salah harus segera dihakimi atau dikoreksi.

Saya mulai fokus pada bacaan dan kekhusyukan saya sendiri, bukan menjadi "hakim" bagi orang lain. Kini, prinsip ini saya bawa ke kehidupan:

Jika melihat orang lain salah, anggap saja mungkin kita yang salah lihat.
Jika mendengar orang lain keliru, anggap saja mungkin kita yang salah dengar.

Bukan untuk membenarkan kesalahan, tapi untuk melatih hati agar tidak tergesa-gesa menghakimi dan mengingat bahwa memperbaiki diri sendiri jauh lebih mendesak daripada sibuk mengaudit orang lain.

Kadang yang perlu diluruskan bukan bacaan imam, tapi cara pandang kita sendiri.

Bukankah cara syaitan menggoda kita dengan membuat kita merasa paling benar sendiri?

Comments

Popular posts from this blog

Pak Rektor

"Pada akhirnya kita harus sepakat di koridor kekuasaan: prestasi hanyalah tumpukan debu yang gampang diterbitkan oleh waktu."  KK Ibrah Kita sepakat tentang itu. Bahwa di lorong kekuasaan, prestasi adalah barang mudah usang. Tapi bagi kami yang menyaksikan langsung hidup Kiyai Prof. Hannani, mantan Rektor IAIN Parepare yang baru saja diganti, ada debu yang tak pernah mati. Ada prestasi yang tak bisa diterbitkan oleh waktu maupun kursi. Beliau adalah sosok yang tidak pernah mengenal lelah mengurus umat. Ketika di IAIN Parepare, pulangnya kebanyakan larut malam. Di hari libur pun, beliau sering ke kantor. Semua dilakukan demi satu hal: kemajuan IAIN Parepare. Bukan untuk pujian. Bukan untuk laporan. Tapi karena baginya, mengurus kampus adalah mengurus umat, dan mengurus umat adalah ibadah yang tak mengenal waktu. Di ruang kerjanya, beliau dikenal sangat mendorong karir para dosen. Tak jarang dosen datang berkonsultasi soal kenaikan pangkat hingga guru besar. Dengan santai dan l...

Guru Honorer dan Pegawai MBG

Bayangkan dua orang pekerja di bangunan yang sama. Satu orang bertugas mengecat dinding ruangan baru, dengan seragam lengkap, peralatan memadai, dan kontrak kerja yang jelas. Yang lainnya telah bertahun-tahun menyangga atap bangunan dengan kedua tangannya, berdiri di atas pondasi yang retak, tanpa helm pengaman, dan tak pernah tahu apakah esok masih akan dipanggil bekerja. Keduanya sama-sama penting. Tapi, adilkah perlakuan terhadap mereka? Inilah alegori sederhana dari dua garda terdepan pembangunan manusia Indonesia: Guru Honorer dan Pegawai Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Narasi ini dengan tegas ingin menyampaikan: keduanya bukanlah pihak yang bertentangan. Mempertentangkan mereka ibarat mempertentangkan tangan kanan dan tangan kiri saat membangun; keduanya sama-sama penting, sama-sama dibutuhkan, dan harus sama-sama kuat. Musuh bersama sesungguhnya bukanlah sesama pekerja, melainkan sistem dan kebijakan yang belum sepenuhnya adil dalam memperlakukan semua pekerjanya. Kita semua...

Sudut Pandang

 Ada cara pandang yang diam-diam membentuk seluruh keyakinan kita. Ia tidak terlihat, tetapi menentukan siapa yang kita anggap benar, siapa yang kita anggap salah. Ia bekerja dalam senyap, meresap ke dalam setiap pertimbangan kita, seolah-olah itulah suara akal sehat semata. Padahal, dari tempat yang berbeda, satu peristiwa yang sama persis bisa memiliki makna yang bertolak belakang. Ambillah contoh sederhana di padang savana: bagi seekor rumput, rusa adalah ancaman yang datang setiap hari, menggerogoti daun-daun muda, mengancam kelangsungan hidupnya. Namun, bagi rumput yang sama, singa justru dianggap penjagakarena singa memangsa rusa, memberi ruang bagi rumput untuk tumbuh kembali. Bukan karena kenyataan berubah, tetapi karena posisi yang berbeda melahirkan penilaian yang berbeda. Tidak ada sudut pandang yang netral; setiap kita berdiri di suatu tempat, dan tempat itu mewarnai segala yang kita lihat. Di kehidupan sehari-hari, hal ini terjadi tanpa kita sadari.  Kita sering m...