Anggap Saja Kita yang Salah Dengar

Ada fase dalam hidup saya ketika perhatian terhadap bacaan al-Qur'an begitu tajam. Saya tahu, salah harakat bisa mengubah makna. Maka setiap kali ada yang membaca, telinga saya siaga, bukan untuk tenggelam dalam makna, tapi untuk mengaudit tajwid dan makhraj.

Suatu maghrib, saya shalat di masjid tanpa imam tetap. Seorang bapak berdiri, dan shalat pun dimulai. Bacaan imam tidak sempurna. Ada yang terasa janggal di telinga saya.

Sepanjang menjadi makmum, saya fokus pada "kesalahan" imam, bukan pada Allah atau makna ayat. Setelah salam, saya langsung ulangi shalat di pojok masjid.

Di rumah, dengan sedikit rasa bangga, saya ceritakan pada guru kami sambil menirukan bacaan imam tadi. Guru hanya tersenyum dan berkata, "Lain kali, nggak usah kamu ulangi shalat kamu."

"Salah bacaannya, Abah... shalatnya nggak sah."

Beliau menjawab pelan, "Anggap saja kamu yang salah dengar tadi."

Jawaban itu sederhana, namun menampar ego saya. Sejak itu saya belajar, tidak semua yang terdengar salah harus segera dihakimi atau dikoreksi.

Saya mulai fokus pada bacaan dan kekhusyukan saya sendiri, bukan menjadi "hakim" bagi orang lain. Kini, prinsip ini saya bawa ke kehidupan:

Jika melihat orang lain salah, anggap saja mungkin kita yang salah lihat.
Jika mendengar orang lain keliru, anggap saja mungkin kita yang salah dengar.

Bukan untuk membenarkan kesalahan, tapi untuk melatih hati agar tidak tergesa-gesa menghakimi dan mengingat bahwa memperbaiki diri sendiri jauh lebih mendesak daripada sibuk mengaudit orang lain.

Kadang yang perlu diluruskan bukan bacaan imam, tapi cara pandang kita sendiri.

Bukankah cara syaitan menggoda kita dengan membuat kita merasa paling benar sendiri?

Comments

Popular posts from this blog

Pak Rektor

Kecewa Boleh, Lelah Mencintai Indonesia Jangan

Zakat, Wakaf, dan Pajak: Instrumen Sosial dengan Tujuan dan Hakikat yang Berbeda