KH Helmi Ali Yafie bercerita kepada kami. Cerita yang membuat dada tersentak. Sekaligus adem. Soal dua tokoh besar. Dua raksasa Nahdlatul Ulama: Gus Dur dan Kiai Ali Yafie. Waktu itu awal 1990-an. Suasana PBNU sedang hangat-hangatnya. Bahkan panas. Pemicunya bukan hanya cuma soal ICMI, tapi soal yang sangat sensitif saat itu: SDSB. Bagi rakyat kecil, SDSB itu sejatinya judi kupon putih yang dilegalkan negara. Kiai Ali Yafie gusar luar biasa. Sebagai ulama ahli fikih, beliau melihat SDSB merusak moral masyarakat bawah dan jelas-jelas haram. Beliau menuntut PBNU mengeluarkan fatwa tegas dan keras menolak SDSB. Tapi Gus Dur punya kalkulasi lain. Bukan berarti Gus Dur setuju judi. Sama sekali tidak. Namun, sebagai Ketua Umum Tanfidziyah PBNU, Gus Dur harus berselancar di antara tekanan politik Soeharto yang sedang kuat-kuatnya. Gus Dur memilih cara berdialog dan manuver taktis ketimbang konfrontasi terbuka yang bisa membuat NU dihantam rezim Orde Baru. Dua-duanya ulama kelas wahid. D...