Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2026

Teladan Dua Kiai: Gus Dur dan KH. Ali Yafie

  KH Helmi Ali Yafie bercerita kepada kami. Cerita yang membuat dada tersentak. Sekaligus adem. Soal dua tokoh besar. Dua raksasa Nahdlatul Ulama: Gus Dur dan Kiai Ali Yafie. Waktu itu awal 1990-an. Suasana PBNU sedang hangat-hangatnya. Bahkan panas. Pemicunya bukan hanya cuma soal ICMI, tapi soal yang sangat sensitif saat itu: SDSB. Bagi rakyat kecil, SDSB itu sejatinya judi kupon putih yang dilegalkan negara. Kiai Ali Yafie gusar luar biasa. Sebagai ulama ahli fikih, beliau melihat SDSB merusak moral masyarakat bawah dan jelas-jelas haram. Beliau menuntut PBNU mengeluarkan fatwa tegas dan keras menolak SDSB. Tapi Gus Dur punya kalkulasi lain. Bukan berarti Gus Dur setuju judi. Sama sekali tidak. Namun, sebagai Ketua Umum Tanfidziyah PBNU, Gus Dur harus berselancar di antara tekanan politik Soeharto yang sedang kuat-kuatnya. Gus Dur memilih cara berdialog dan manuver taktis ketimbang konfrontasi terbuka yang bisa membuat NU dihantam rezim Orde Baru. Dua-duanya ulama kelas wahid. D...

Pelo"

Suatu malam yang hangat kota parepare, saya bersama senior saya, Kak Burhan, mengendarai Vario putih menuju rumah Kiyai Prof. Hannani untuk meminta restu dan doa pernikahan. Di ruang tamu yang sederhana, setelah obrolan ringan, Pak Kiyai tiba-tiba menoleh ke Kak Burhan seraya berkata, "Burhan, merokoklah." Namun Kak Burhan menjawab dengan sopan, "Maaf, Pak Kiyai, saya sudah berhenti merokok." Lalu Kiyai Hannani tersenyum lebar dan berseru dengan nada menggoda, "Aja... pajai mappelo makanja tu mappelo", dan kami pun tertawa bersama. Beberapa waktu kemudian, ketika saya mendapat kehormatan menemani beliau ke acara pernikahan Kak Burhan di Bola Patappuloe, di tengah perjalanan Pak Kiyai menoleh dan bertanya, "Mappelo ko?" Saya menjawab jujur, "Tidak, Pak Kiyai." Lalu dengan nada yang sangat berbeda nada sarat nasihat—beliau berkata sambil memegang rokok dan tertawa, "Makanja aja mappelo degaga gunana" ("merokok itu tidak ada...

Saat Tuhan Mengangkat Derajat Orang-Orang yang Bertahan

Dalam hidup, setiap manusia pernah berada di persimpangan dan di sanalah kita menentukan pilihan entah itu karier, pendidikan, pasangan hidup, atau prinsip yang kita pegang, namun memilih hanyalah awal karena ujian sesungguhnya ada pada proses bertahan, saat beban terasa begitu berat, langkah tersendat, dan suara-suara sumbang berbisik untuk menyerah, dan di titik inilah istiqomah diuji karena bertahan pada cita-cita bukanlah tentang keras kepala melainkan tentang keyakinan bahwa setiap tetes keringat, setiap air mata yang tertahan, dan setiap lelah yang dipikul karena pilihan yang baik tidak akan sia-sia, sebagaimana Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Ahqaf ayat 13, "Sesungguhnya orang-orang yang berkata: 'Tuhan kami ialah Allah,' kemudian mereka istiqomah, maka tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati," yang merupakan janji agung bahwa ketakutan diganti ketenangan dan kesedihan diganti kebahagiaan, bukan karena jalannya tiba-tiba mulus tetapi k...