Suatu malam yang hangat kota parepare, saya bersama senior saya, Kak Burhan, mengendarai Vario putih menuju rumah Kiyai Prof. Hannani untuk meminta restu dan doa pernikahan. Di ruang tamu yang sederhana, setelah obrolan ringan, Pak Kiyai tiba-tiba menoleh ke Kak Burhan seraya berkata, "Burhan, merokoklah." Namun Kak Burhan menjawab dengan sopan, "Maaf, Pak Kiyai, saya sudah berhenti merokok." Lalu Kiyai Hannani tersenyum lebar dan berseru dengan nada menggoda, "Aja... pajai mappelo makanja tu mappelo", dan kami pun tertawa bersama.
Beberapa waktu kemudian, ketika saya mendapat kehormatan menemani beliau ke acara pernikahan Kak Burhan di Bola Patappuloe, di tengah perjalanan Pak Kiyai menoleh dan bertanya, "Mappelo ko?" Saya menjawab jujur, "Tidak, Pak Kiyai." Lalu dengan nada yang sangat berbeda nada sarat nasihat—beliau berkata sambil memegang rokok dan tertawa, "Makanja aja mappelo degaga gunana" ("merokok itu tidak ada ada gunanya"). Dalam sekejap saya teringat bagaimana Rasulullah ﷺ sering memberikan jawaban berbeda untuk pertanyaan serupa kepada sahabat yang berbeda sesuai kondisi masing-masing.
Saya teringat ketika seorang sahabat bertanya tentang amal paling utama dan beliau menjawab, "Islam yang paling utama adalah seseorang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya," namun di lain waktu beliau menjawab sahabat lain dengan, "Kamu memberi makan dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal." Ibn Hajar Al-Asqallani menjelaskan bahwa perbedaan jawaban ini muncul akibat perbedaan kondisi penanya jawaban pertama untuk orang yang dikhawatirkan menyakiti orang lain, jawaban kedua untuk orang yang diharapkan mampu memberi manfaat luas.
Saya juga teringat kisah seorang pemuda yang meminta izin berzina, di mana para sahabat menghardiknya namun Rasulullah justru memanggilnya mendekat dan bertanya dengan sabar, "Apakah kamu rela jika ibumu berzina?" lalu "Apakah kamu rela jika anak perempuannya dizinai?" dan seterusnya hingga pemuda itu menyadari sendiri, kemudian beliau mengusap kepalanya dan berdoa, "Ya Allah, ampunilah dosanya dan sucikanlah hatinya." Begitu pula kisah tentang dua orang yang bertanya tentang mencium istri saat puasa, di mana seorang pemuda dilarang namun seorang lansia diperbolehkan karena pemuda masih memiliki gairah kuat sementara orang tua lebih terkendali.
Dari semua itu saya merenungkan kebijaksanaan Kiyai Hannani yang memberikan dua jawaban bertolak belakang tentang rokok. Kepada Kak Burhan yang sudah berhenti, beliau bercanda seolah menyuruh merokok sebagai bentuk penerimaan tanpa penghakiman. Sementara kepada saya yang masih perokok, beliau menyampaikan nasihat halus bahwa merokok itu tidak ada gunanya. Inilah esensi kebijaksanaan: mengetahui kapan harus berbicara, kapan harus diam, kapan harus bercanda, dan kapan harus menasihati, semuanya disesuaikan dengan siapa yang ada di hadapan kita.
Para ulama menjelaskan bahwa perbedaan jawaban Nabi bukanlah kontradiksi melainkan bukti kecerdasan beliau membaca kondisi dan kebutuhan setiap individu, dipengaruhi oleh perbedaan kondisi penanya, perbedaan waktu dan situasi, serta untuk memberikan beragam wasiat yang dapat sampai kepada umat. Perjalanan menemani Kak Burhan ke rumah Kiyai Hannani kemudian ke Bola Patappuloe mengajarkan saya bahwa seorang guru sejati tidak memberikan jawaban yang sama untuk semua orang, seperti halnya dokter memberikan resep berbeda untuk pasien berbeda.
Ketika Pak Kiyai bertanya "Mappelo ko?" lalu saya menjawab "Tidak, Pak Kiyai," dan beliau berkata "Makanja aja mappelo degaga gunana" sambil tersenyum, saya pun tersenyum karena saya tahu di balik senyum dan canda itu tersimpan doa dan harapan agar saya dan kita semua menjadi pribadi yang lebih baik. Wallahu a'lam bish-shawab.
Comments
Post a Comment