KH Helmi Ali Yafie bercerita kepada kami. Cerita yang membuat dada tersentak. Sekaligus adem.
Soal dua tokoh besar. Dua raksasa Nahdlatul Ulama: Gus Dur dan Kiai Ali Yafie.
Waktu itu awal 1990-an. Suasana PBNU sedang hangat-hangatnya. Bahkan panas. Pemicunya bukan hanya cuma soal ICMI, tapi soal yang sangat sensitif saat itu: SDSB.
Bagi rakyat kecil, SDSB itu sejatinya judi kupon putih yang dilegalkan negara. Kiai Ali Yafie gusar luar biasa. Sebagai ulama ahli fikih, beliau melihat SDSB merusak moral masyarakat bawah dan jelas-jelas haram. Beliau menuntut PBNU mengeluarkan fatwa tegas dan keras menolak SDSB.
Tapi Gus Dur punya kalkulasi lain.
Bukan berarti Gus Dur setuju judi. Sama sekali tidak. Namun, sebagai Ketua Umum Tanfidziyah PBNU, Gus Dur harus berselancar di antara tekanan politik Soeharto yang sedang kuat-kuatnya. Gus Dur memilih cara berdialog dan manuver taktis ketimbang konfrontasi terbuka yang bisa membuat NU dihantam rezim Orde Baru.
Dua-duanya ulama kelas wahid. Dua-duanya punya argumentasi kokoh.
Kiai Ali Yafie bergerak atas prinsip kemurnian hukum Islam dan moralitas publik. Gus Dur bergerak atas pertimbangan keselamatan kelembagaan NU di mata kekuasaan.
Satu berdiri di garis prinsipial yang lurus. Satu lagi berselancar di arus politik yang rumit.
Beda pendapat itu wajar. Yang tidak wajar adalah puncaknya: Kiai Ali Yafie memilih mundur dari jabatannya sebagai Pejabat Rais Aam PBNU pada 1992.
Mundur!
Peristiwa itu bikin geger nasional. Media massa memberitakan berhari-hari. Publik kaget. Gus Dur pun prihatin luar biasa.
Lantas, apakah hubungan mereka putus? Apakah mereka lantas saling serang di media?
Sama sekali tidak.
Di sinilah kelasnya para ulama.
Hanya selang satu atau dua bulan setelah mengundurkan diri, Kiai Ali Yafie mendapat kabar: Gus Dur sakit.
Apa yang dilakukan Kiai Ali Yafie?
Beliau tidak menunggu diajak. Tidak menunggu suasana dingin. Kiai Ali Yafie langsung berangkat menjenguk
Pak Haramain
Comments
Post a Comment