Saat Tuhan Mengangkat Derajat Orang-Orang yang Bertahan

Dalam hidup, setiap manusia pernah berada di persimpangan dan di sanalah kita menentukan pilihan entah itu karier, pendidikan, pasangan hidup, atau prinsip yang kita pegang, namun memilih hanyalah awal karena ujian sesungguhnya ada pada proses bertahan, saat beban terasa begitu berat, langkah tersendat, dan suara-suara sumbang berbisik untuk menyerah, dan di titik inilah istiqomah diuji karena bertahan pada cita-cita bukanlah tentang keras kepala melainkan tentang keyakinan bahwa setiap tetes keringat, setiap air mata yang tertahan, dan setiap lelah yang dipikul karena pilihan yang baik tidak akan sia-sia, sebagaimana Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Ahqaf ayat 13,

"Sesungguhnya orang-orang yang berkata: 'Tuhan kami ialah Allah,' kemudian mereka istiqomah, maka tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati,"

yang merupakan janji agung bahwa ketakutan diganti ketenangan dan kesedihan diganti kebahagiaan, bukan karena jalannya tiba-tiba mulus tetapi karena hati menjadi kuat, dan ketika hati kuat maka derajat manusia diangkat oleh-Nya, baik di mata manusia maupun di sisi-Nya.

Salah satu bukti nyata dari perjuangan istiqomah adalah kisah Lionel Messi yang pada tahun 2016 setelah tiga kali gagal membawa Argentina juara di final berturut-turut mengumumkan pensiun dari Timnas karena beban harapan satu negara begitu berat dan hinaan, cemoohan, serta keraguan menghujam dirinya hingga ia merasa gagal dan tak layak lagi membawa kebanggaan negaranya, namun cinta pada tanah air dan panggilan jiwa seorang pejuang membuatnya kembali karena ia sadar bahwa meninggalkan pilihan berarti mengakui kekalahan abadi, sehingga Messi memilih untuk bertahan dan kembali ke Timnas serta terus berjuang meski usianya tak lagi muda, bertahun-tahun ia lewati dengan latihan ekstra, mengorbankan waktu bersama keluarga, dan menahan setiap decak kecewa dari penggemar, hingga puncak dari istiqomahnya tiba pada tahun 2021 ketika ia mempersembahkan Copa America untuk Argentina dan puncak tertinggi pada tahun 2022 di Qatar ketika ia mengangkat trofi Piala Dunia, dan pada malam itu Messi menangis bukan karena mudah tetapi karena ia tahu betapa berat jalannya, sehingga derajatnya diangkat oleh Tuhan dari seorang yang dihujat menjadi legenda abadi yang menginspirasi miliaran orang bahwa orang yang bertahan pada pilihannya akan melihat keajaiban.

Hal serupa juga dialami oleh Stephen King yang sebelum menjadi raja horor dunia adalah guru yang hampir putus asa karena novel pertamanya Carrie ditolak oleh 30 penerbit hingga ia melempar naskah itu ke tong sampah karena yakin tidak ada yang mau membacanya, namun istrinya Tabitha menarik kembali naskah itu dan meyakinkannya untuk mencoba sekali lagi, dan meskipun King bisa saja memilih berhenti dan menganggap menulis adalah pilihan yang salah, ia memilih istiqomah dan di sela-sela mengajar dan mencuci pakaian di laundry ia terus menulis hingga kini lebih dari 350 juta kopi bukunya terjual, menjadikannya bukan hanya kaya dan terkenal tetapi juga menginspirasi para penulis dunia bahwa penolakan bukan akhir dan Tuhan mengangkat derajatnya melalui kegigihan menjadikan kata-katanya abadi dalam sejarah sastra.

Tidak hanya tokoh dunia, karena di sebuah pasar tradisional ada seorang ibu bernama Kalsum yang setiap hari berjualan sayur dari pukul 3 pagi hingga senja dengan penghasilan pas-pasan yang seringkali hanya cukup untuk makan dan ongkos, dan meskipun banyak tetangga menyarankan agar anak-anaknya berhenti sekolah dan ikut berjualan, Ibu Kalsum punya pilihan teguh bahwa anak-anaknya harus sekolah setinggi mungkin sehingga bertahun-tahun ia istiqomah menabung recehan dan saat dagangan sepi ia tetap menyisihkan seribu, dua ribu rupiah tanpa pernah mengeluh di depan anak-anaknya karena ia yakin rezeki bukan hanya tentang uang tetapi tentang keberkahan pada proses, dan kini anak sulungnya menjadi dokter serta anak keduanya menjadi insinyur sehingga derajat Ibu Kalsum diangkat oleh masyarakat namun lebih dari itu ia mendapatkan kemuliaan sebagai ibu pejuang karena Tuhan tidak pernah mengabaikan mereka yang istiqomah dalam pilihan yang baik sekecil apa pun skala perjuangan mereka.

Maka dari Messi, Stephen King, hingga Ibu Kalsum kita belajar satu hal bahwa orang-orang hebat bukanlah mereka yang tidak pernah jatuh tetapi mereka yang selalu bangkit dan bertahan pada pilihan mereka, dan keyakinan bahwa Tuhan bersama orang-orang yang sabar dan istiqomah adalah bahan bakar untuk melangkah, sehingga jika saat ini kamu merasa berat ingatlah bahwa setiap hembusan nafas perjuanganmu sedang mencatatkan sejarah, maka tetaplah teguh karena ketika engkau istiqomah di jalan yang benar, suatu saat Tuhan akan mengangkat derajatmu entah di dunia, di akhirat, atau di keduanya, dan teruslah melangkah karena cita-citamu sedang menantimu di ujung sana.

Comments

Popular posts from this blog

Pak Rektor

Kecewa Boleh, Lelah Mencintai Indonesia Jangan

Zakat, Wakaf, dan Pajak: Instrumen Sosial dengan Tujuan dan Hakikat yang Berbeda