Saya masih ingat betul saat pertama kali melihat Muhammad Ramdana dan Meilani Magfirah duduk di ruang kuliah semester dua. Wajah mereka masih penuh dengan rasa ingin tahu, masih canggung dengan dunia akademik yang baru saja mereka mulai. Tapi di balik itu semua, ada sesuatu yang saya tangkap semacam api kecil yang jika diasah akan menyala.
Berawal dari diskusi sederhana di kelas, saya sebagai dosen pengampu hanya ingin mereka tidak sekadar memahami teori. Saya ingin mereka merasakan bagaimana rasanya menghasilkan sesuatu. Saya ingin mereka tahu bahwa gagasan-gagasan yang muncul di ruang kelas itu berharga. Maka saya arahkan mereka untuk mengembangkan ide-ide itu menjadi karya nyata, sesuai dengan tuntutan kurikulum berbasis OBE.
Tiga tim terbentuk. Tiga tim berani mengambil langkah. Mereka mengirimkan karya ke BRINATHON IRIFAIR 2026 yang diselenggarakan oleh BRIN. Saya tidak pernah memasang target tinggi. Saya hanya berharap mereka berani submit. Karena bagi saya, keberanian untuk mencoba adalah kemenangan pertama yang tak ternilai.
Lalu kabar itu datang. Satu tim lolos. Ramdana dan Meilani.
Saya terdiam sejenak. Bukan karena terkejut, tapi karena saya tiba-tiba diingatkan pada diri saya sendiri enam tahun lalu. Tahun 2019, saya masih mahasiswa semester awal ketika berhasil lolos dalam kompetisi Karya Tulis Ilmiah tingkat nasional di Yogyakarta. Saya masih ingat rasa gemuruh di dada, rasa tidak percaya diri, dan ketakutan menghadapi peserta dari kampus-kampus besar. Tapi saat itu ada Pak Fadli Somene—mentor saya—yang terus meyakinkan bahwa saya bisa. Beliau tidak pernah lelah membimbing, mengoreksi, dan mendorong saya untuk melangkah lebih jauh.
Dan sekarang, saya berdiri di sisi yang lain. Bukan lagi sebagai mahasiswa yang terbimbing, tapi sebagai dosen yang membimbing. Melihat Ramdana dan Meilani melangkah ke panggung nasional, saya merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Rasa haru bercampur syukur, karena saya seperti melihat bayangan diri saya sendiri dulu. Hanya saja kali ini, saya yang memegang peran untuk menuntun mereka.
Saya menyadari bahwa ini adalah saat saya menuntaskan dan membalas kebaikan Pak Fadli. Beliau dulu memberi saya kepercayaan bahwa saya bisa. Kini giliran saya memberi kepercayaan yang sama kepada mahasiswa saya. Bahwa kampus bukanlah batas. Bahwa fasilitas bukanlah penghalang. Bahwa semangat untuk belajar dan berkarya adalah milik siapa saja yang berani memulainya.
Kini Ramdana dan Meilani sedang bersiap untuk presentasi. Mereka akan bertemu dengan peserta dari kampus-kampus top seluruh Indonesia. Saya berpesan kepada mereka agar tidak pernah merasa kecil. Saya ingin mereka tahu bahwa hari ini mereka lolos, dan itu sudah membuktikan bahwa mereka setara. Bahwa mereka juga bisa.
Saya tidak tahu apakah mereka akan pulang sebagai juara pertama. Tapi satu hal yang saya yakini: pengalaman ini akan menjadi bekal berharga bagi perjalanan panjang mereka. Dan bagi saya, melihat mereka melangkah dengan percaya diri adalah kemenangan yang tak ternilai.
Karena pada akhirnya, inilah yang saya pelajari dari Pak Fadli dulu—bahwa keberhasilan seorang mentor tidak diukur dari seberapa banyak juara yang ia hasilkan, tapi dari seberapa banyak anak didik yang ia yakini bahwa mereka bisa. Dan hari ini, saya merasa telah membayar utang kebaikan itu, sedikit demi sedikit, melalui langkah Ramdana dan Meilani yang melangkah ke panggung nasional.
Comments
Post a Comment