Skip to main content

Quarter-life Crisis: Keniscayaan Menjadi Dewasa

“Takut Tambah Dewasa, Takut Aku Kecewa, Takut tak seindah yang kukira” karya adalah kutipan lirik lagu yang dinyanyikan oleh Brigita Meliala atau lebih populer dengan nama Idgitaf.

    Belakangan ini menjadi lagu yang sangat populer dikalangan remaja. Hal ini selaras dengan isu quarter-life crisis sering menjadi pembicaraan khalayak terutama di media sosial. Krisis ini dipicu oleh ketimpangan antara tuntutan perkembangan masa dewasa untuk menjadi mandiri baik secara mental, finansial, maupun karier dengan kemampuan yang dimiliki individu untuk mengatasinya. Bagi sebagian orang, quarter-life crisis menjadi peristiwa yang nyata dan penuh tantangan. Mereka yang mengalami ini mungkin merasa kehilangan sesuatu. Mereka juga akan bertanya-tanya apa tujuan hidupnya dan apakah mereka berada di jalan yang benar.

   Sebuah penelitian yang dilakukan oleh LinkedIn (2017) terkait quarter life crisis menunjukkan sebanyak 75% dari 6.014 partisipan dari berbagai negara, seperti Amerika, Inggris, India, dan Australia pernah mengalami quarter life crisis dan rata-rata mereka mengalaminya di usia 27 tahun.  Quarter life crisis yang terjadi pada generasi milenial banyak dialami perempuan sebesar 61%. Pemicu quarter-life crisis sangatlah bervariasi, diantaranya 57% merasa kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai dengan passion, 57% mengalami tekanan lantaran belum memiliki rumah, dan 46% mengaku tertekan akibat belum memiliki pasangan. Keadaan inilah diakibatkan permasalahan keuangan pada individu,sehingga membuat milineal merasa insecure, kecewa, kesepian sampai depresi. Faktor lain terjadinya quarter life crisis adalah terjadinya percepatan teknologi dan informasi yang dirasakan oleh remaja saat ini.

    Quarter-life crisis sendiri merupakan fenomena psikologis yang cukup umum terjadi di kalangan generasi muda dewasa antara umur 20-30 tahun. Menurut Dr. Oliver Robinson, seorang psikolog yang mempelajari quarter-life crisis, kondisi ini muncul sebagai hasil dari perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat modern, di mana individu merasa terlalu banyak pilihan dan tekanan untuk mencapai kesuksesan dalam hidup mereka. Robinson juga menyatakan bahwa perubahan-perubahan kecil yang terjadi selama masa transisi dari remaja ke dewasa muda dapat memengaruhi kemampuan individu untuk menentukan tujuan dan mencapai keberhasilan dalam hidup.

    Robinson menjelaskan bahwa terdapat lima fase yang dilalui oleh individu dalam periode quarter-life crisis, yaitu: Fase pertama, ditandai dengan munculnya perasaan terjebak dalam situasi yang merupakan pilihan hidupnya. Fase kedua, terdapat dorongan kuat untuk mengubah situasi dan merasa bahwa perubahan itu hanya akan terjadi jika ia melakukan sebuah “movement.” Fase ketiga, terjadi tindakan yang sangat krusial yaitu keinginan untuk keluar dari komitmen yang sudah dijalani dan membuatnya merasa terjebak. Fase keempat, ditandai dengan mulai membangun pondasi baru di mana individu dapat mengendalikan arah tujuan hidupnya. Fase kelima, membangun komitmen baru yang sesuai dengan minat dan nilai moral yang dipercaya individu tersebut.

         Sebagai penganut ajaran Islam hal ini harus diyakini bahwa semua yang terjadi itulah takdir terbaik yang diniscayakan kepada kita yang terjadi pasti merupakan campur tangan Tuhan didalamnya.  Dalam Islam, tidak ada konsep khusus tentang quarter-life crisis. Namun beberapa alternatif solusi yang diajarkan Islam yang dapat membantu individu mengatasi quarter-life crisis diantaranya: Pertama, sabar dalam Islam merupakan sikap yang penting untuk menjaga ketenangan dan kestabilan dalam menghadapi masalah dan krisis dalam hidup. Kedua, Tawakal merupakan kepercayaan kepada Allah SWT, bahwa setiap hal yang terjadi dalam hidup adalah kehendak-Nya dan selalu ada hikmah di baliknya. Ketiga, Berprasangka baik kepada Allah.

Allah berfirman”Aku selalu menuruti persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Apabila ia berprasangka baik maka ia akan mendapatkan kebaikan. Adapun bila ia berprasangka buruk kepada-Ku maka dia akan mendapatkan keburukan.” (H.R.Tabrani dan Ibnu Hibban).”

Comments

Popular posts from this blog

Pak Rektor

"Pada akhirnya kita harus sepakat di koridor kekuasaan: prestasi hanyalah tumpukan debu yang gampang diterbitkan oleh waktu."  KK Ibrah Kita sepakat tentang itu. Bahwa di lorong kekuasaan, prestasi adalah barang mudah usang. Tapi bagi kami yang menyaksikan langsung hidup Kiyai Prof. Hannani, mantan Rektor IAIN Parepare yang baru saja diganti, ada debu yang tak pernah mati. Ada prestasi yang tak bisa diterbitkan oleh waktu maupun kursi. Beliau adalah sosok yang tidak pernah mengenal lelah mengurus umat. Ketika di IAIN Parepare, pulangnya kebanyakan larut malam. Di hari libur pun, beliau sering ke kantor. Semua dilakukan demi satu hal: kemajuan IAIN Parepare. Bukan untuk pujian. Bukan untuk laporan. Tapi karena baginya, mengurus kampus adalah mengurus umat, dan mengurus umat adalah ibadah yang tak mengenal waktu. Di ruang kerjanya, beliau dikenal sangat mendorong karir para dosen. Tak jarang dosen datang berkonsultasi soal kenaikan pangkat hingga guru besar. Dengan santai dan l...

Guru Honorer dan Pegawai MBG

Bayangkan dua orang pekerja di bangunan yang sama. Satu orang bertugas mengecat dinding ruangan baru, dengan seragam lengkap, peralatan memadai, dan kontrak kerja yang jelas. Yang lainnya telah bertahun-tahun menyangga atap bangunan dengan kedua tangannya, berdiri di atas pondasi yang retak, tanpa helm pengaman, dan tak pernah tahu apakah esok masih akan dipanggil bekerja. Keduanya sama-sama penting. Tapi, adilkah perlakuan terhadap mereka? Inilah alegori sederhana dari dua garda terdepan pembangunan manusia Indonesia: Guru Honorer dan Pegawai Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Narasi ini dengan tegas ingin menyampaikan: keduanya bukanlah pihak yang bertentangan. Mempertentangkan mereka ibarat mempertentangkan tangan kanan dan tangan kiri saat membangun; keduanya sama-sama penting, sama-sama dibutuhkan, dan harus sama-sama kuat. Musuh bersama sesungguhnya bukanlah sesama pekerja, melainkan sistem dan kebijakan yang belum sepenuhnya adil dalam memperlakukan semua pekerjanya. Kita semua...

Sudut Pandang

 Ada cara pandang yang diam-diam membentuk seluruh keyakinan kita. Ia tidak terlihat, tetapi menentukan siapa yang kita anggap benar, siapa yang kita anggap salah. Ia bekerja dalam senyap, meresap ke dalam setiap pertimbangan kita, seolah-olah itulah suara akal sehat semata. Padahal, dari tempat yang berbeda, satu peristiwa yang sama persis bisa memiliki makna yang bertolak belakang. Ambillah contoh sederhana di padang savana: bagi seekor rumput, rusa adalah ancaman yang datang setiap hari, menggerogoti daun-daun muda, mengancam kelangsungan hidupnya. Namun, bagi rumput yang sama, singa justru dianggap penjagakarena singa memangsa rusa, memberi ruang bagi rumput untuk tumbuh kembali. Bukan karena kenyataan berubah, tetapi karena posisi yang berbeda melahirkan penilaian yang berbeda. Tidak ada sudut pandang yang netral; setiap kita berdiri di suatu tempat, dan tempat itu mewarnai segala yang kita lihat. Di kehidupan sehari-hari, hal ini terjadi tanpa kita sadari.  Kita sering m...