Skip to main content

Berani Tidak Disukai Semua Orang

Banyak orang mengagumi slogan "berani tidak disukai semua orang" seolah itu adalah puncak keberanian sejati. Mereka berpikir bahwa jika seseorang dibenci, disisihkan, atau ditolak oleh banyak pihak, maka orang itu pasti hebat, autentik, dan tidak kompromi dengan nilai-nilainya. Narasi populer ini sering dikaitkan dengan keteguhan prinsip, ketidakpedulian pada opini publik, dan kebebasan sejati.

Namun, pandangan ini keliru secara fundamental.

Pertama, keberanian sejati tidak diukur dari berapa banyak orang yang tidak menyukai kita. Keberanian adalah melakukan hal yang benar, adil, dan manusiawi meskipun ada risiko tidak disukai. Bukan justru mencari atau merasa bangga karena ditolak. Seseorang bisa saja tidak disukai banyak orang karena ia kasar, egois, tidak empati, atau merugikan orang lain. Apakah itu layak disebut keberanian? Tentu tidak.

Kedua, "berani tidak disukai semua orang" sering disalahartikan sebagai pembenaran untuk mengabaikan perasaan orang lain. Padahal, manusia adalah makhluk sosial. Ingin disukai secara wajar adalah naluri yang sehat, bukan kelemahan. Rasa ingin dihargai dan diterima membuat kita belajar sopan santun, kerja sama, dan empati. Jika keberanian diartikan sebagai penghapusan total keinginan untuk disukai, maka kita kehilangan fondasi moral dasar: kepedulian terhadap dampak tindakan kita pada orang lain.

Ketiga, klaim ini keliru karena menyamakan "disukai semua orang" dengan kehilangan jati diri. Tidak ada manusia yang bisa disukai semua orang itu fakta biologis dan sosial. Namun, seseorang yang bijak tidak akan menyebut ketidaksukaan orang lain sebagai "bukti keberanian." Dia akan menerima ketidaksukaan sebagai risiko, bukan sebagai target. Fokusnya bukan pada menjadi tidak disukai, tetapi pada menjadi baik, adil, dan berguna. Jika karena kebaikan itu ia tidak disukai segelintir orang, itu konsekuensi, bukan pencapaian.

Keempat, narasi ini bahaya karena bisa memicu sikap defensif berlebihan. Seseorang yang yakin "harus berani tidak disukai" cenderung menolak kritik, mengabaikan umpan balik, dan menyalahkan lingkungan jika hubungannya rusak. Padahal, kadang kita tidak disukai karena kesalahan kita sendiri—bukan karena kita berprinsip. Mengklaim keberanian dalam ketidaksukaan bisa menjadi tameng untuk menghindari introspeksi.

Comments

Popular posts from this blog

Pak Rektor

"Pada akhirnya kita harus sepakat di koridor kekuasaan: prestasi hanyalah tumpukan debu yang gampang diterbitkan oleh waktu."  KK Ibrah Kita sepakat tentang itu. Bahwa di lorong kekuasaan, prestasi adalah barang mudah usang. Tapi bagi kami yang menyaksikan langsung hidup Kiyai Prof. Hannani, mantan Rektor IAIN Parepare yang baru saja diganti, ada debu yang tak pernah mati. Ada prestasi yang tak bisa diterbitkan oleh waktu maupun kursi. Beliau adalah sosok yang tidak pernah mengenal lelah mengurus umat. Ketika di IAIN Parepare, pulangnya kebanyakan larut malam. Di hari libur pun, beliau sering ke kantor. Semua dilakukan demi satu hal: kemajuan IAIN Parepare. Bukan untuk pujian. Bukan untuk laporan. Tapi karena baginya, mengurus kampus adalah mengurus umat, dan mengurus umat adalah ibadah yang tak mengenal waktu. Di ruang kerjanya, beliau dikenal sangat mendorong karir para dosen. Tak jarang dosen datang berkonsultasi soal kenaikan pangkat hingga guru besar. Dengan santai dan l...

Guru Honorer dan Pegawai MBG

Bayangkan dua orang pekerja di bangunan yang sama. Satu orang bertugas mengecat dinding ruangan baru, dengan seragam lengkap, peralatan memadai, dan kontrak kerja yang jelas. Yang lainnya telah bertahun-tahun menyangga atap bangunan dengan kedua tangannya, berdiri di atas pondasi yang retak, tanpa helm pengaman, dan tak pernah tahu apakah esok masih akan dipanggil bekerja. Keduanya sama-sama penting. Tapi, adilkah perlakuan terhadap mereka? Inilah alegori sederhana dari dua garda terdepan pembangunan manusia Indonesia: Guru Honorer dan Pegawai Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Narasi ini dengan tegas ingin menyampaikan: keduanya bukanlah pihak yang bertentangan. Mempertentangkan mereka ibarat mempertentangkan tangan kanan dan tangan kiri saat membangun; keduanya sama-sama penting, sama-sama dibutuhkan, dan harus sama-sama kuat. Musuh bersama sesungguhnya bukanlah sesama pekerja, melainkan sistem dan kebijakan yang belum sepenuhnya adil dalam memperlakukan semua pekerjanya. Kita semua...

Sudut Pandang

 Ada cara pandang yang diam-diam membentuk seluruh keyakinan kita. Ia tidak terlihat, tetapi menentukan siapa yang kita anggap benar, siapa yang kita anggap salah. Ia bekerja dalam senyap, meresap ke dalam setiap pertimbangan kita, seolah-olah itulah suara akal sehat semata. Padahal, dari tempat yang berbeda, satu peristiwa yang sama persis bisa memiliki makna yang bertolak belakang. Ambillah contoh sederhana di padang savana: bagi seekor rumput, rusa adalah ancaman yang datang setiap hari, menggerogoti daun-daun muda, mengancam kelangsungan hidupnya. Namun, bagi rumput yang sama, singa justru dianggap penjagakarena singa memangsa rusa, memberi ruang bagi rumput untuk tumbuh kembali. Bukan karena kenyataan berubah, tetapi karena posisi yang berbeda melahirkan penilaian yang berbeda. Tidak ada sudut pandang yang netral; setiap kita berdiri di suatu tempat, dan tempat itu mewarnai segala yang kita lihat. Di kehidupan sehari-hari, hal ini terjadi tanpa kita sadari.  Kita sering m...