Kecewa Boleh, Lelah Mencintai Indonesia Jangan
Itulah penggalan kalimat yang disampikan Tom Lembong setelah berhasil mendapatkan Abolisi dari pemerintah.
Ayo kita mulai
Matahari terbit di timur, menyapu kelam, menyinari gugusan pulau dari Sabang sampai Merauke. Warnanya jingga kemerahan, sama seperti yang mungkin dilihat oleh Gajah Mada atau Diponegoro berabad silam. Udara pagi berhembus, membawa bau tanah basah setelah hujan, campur aroma kopi pahit dari warung-warung tenda, dan mungkin juga bau asap knalpot di jalanan ibu kota yang sudah mulai ramai. Inilah Indonesia. Sebuah negeri yang, jika diceritakan hanya dalam puisi atau lagu kebangsaan, akan terdengar seperti surga yang tak tersentuh cela. Tapi hidup di dalamnya, menjadi bagian dari denyut nadinya yang kadang kencang, kadang tersendat, adalah cerita yang jauh lebih kompleks. Di sinilah letak paradoksnya: kita boleh, bahkan sering, kecewa. Tapi untuk lelah mencintainya? Ah, itu sebuah pengkhianatan yang tak terampuni terhadap diri sendiri dan terhadap tanah yang telah membentuk kita.
Kecewa. Kata itu mudah terucap, bahkan terlalu mudah. Ia mengendap di kerongkongan saat melihat berita pagi: proyek megah yang ternyata sarang korupsi, anggaran pendidikan atau kesehatan yang dikorupsi hingga menyisakan rupiah receh untuk rakyat, hutan lindung yang digunduli demi kelapa sawit sesaat, atau nelayan tradisional yang terdampar karena kebijakan yang tak memihak. Ia menusuk saat harus antre panjang untuk urusan administrasi yang seharusnya sederhana, hanya untuk dihadapkan pada wajah-wajah birokrasi yang dingin atau permintaan "uang rokok". Ia menjadi pahit saat melihat kesenjangan sosial yang kian menganga, seperti jurang antara menara gading dan gubuk reyot, antara mobil mewah yang melaju kencang dan anak-anak yang mengais sisa nasi di pinggir jalan.
Kekecewaan itu nyata, valid, dan manusiawi. Ia lahir dari harapan. Harapan yang ditanamkan oleh lagu "Indonesia Tanah Air Beta", oleh teks Pancasila di dinding sekolah, oleh pidato-pidato tentang kejayaan Nusantara, oleh janji kemerdekaan yang seharusnya berarti keadilan dan kemakmuran bagi semua. Ketika realita tak seindah janji, ketika cita-cita bangsa terperosok dalam kubangan pragmatisme dan keserakahan, kekecewaan adalah respons alamiah. Ia adalah bentuk kepedulian yang terluka. Seperti anak yang melihat rumahnya kotor dan berantakan, ia marah, ia kesal, ia kecewa karena ia menginginkan rumah itu bersih, rapi, dan nyaman. Kekecewaan bukanlah tanda benci, melainkan bukti bahwa kita masih peduli, masih memiliki standar, masih memiliki harapan tentang seperti apa seharusnya Indonesia ini.
Namun, ada jurang dalam yang memisahkan kecewa dengan lelah mencintai. Kecewa adalah emosi sesaat, sebuah titik dalam perjalanan panjang. Lelah mencintai adalah keputusasaan, sebuah penghentian, sebuah penyerahan. Lelah mencintai berarti menyerah pada gagasan bahwa negeri ini bisa lebih baik. Berarti menutup mata pada segala potensi kecantikannya, pada segala kebaikan yang masih tegak di tengah carut-marut. Berarti melupakan bahwa tanah ini bukan hanya tentang penguasa yang korup atau sistem yang bobrok, tapi juga tentang jutaan orang biasa yang setiap hari berjuang dengan jujur, dengan penuh cinta, untuk hidup dan membuat sekitarnya sedikit lebih baik.
Lihatlah guru-guru di pelosok negeri, yang mengarungi sungai dan mendaki bukit dengan sepeda motor tua, hanya untuk mengajar segelintir anak dengan gaji yang tak seberapa. Cinta mereka pada ilmu dan pada generasi penerus bangsa tak pernah lelah, meski fasilitas minim dan pengakuan seringkali absen. Lihatlah para relawan yang tergerak saat bencana melanda, mengesampingkan perbedaan suku dan agama, bahu membahu mengangkat puing, membagikan makanan, menghibur yang terluka. Lihatlah seniman dan budayawan yang gigih melestarikan tradisi, menciptakan karya yang memantulkan jiwa bangsa, meski pasar seringkali tak ramah. Lihatlah petani yang membanting tulang di sawah, nelayan yang melawan gelombang, pedagang kecil yang membuka warung sejak subuh mereka adalah tulang punggung negeri ini yang bekerja dengan ketekunan luar biasa. Mereka juga mungkin kecewa pada banyak hal, tapi adakah mereka lelah mencintai tanah tempat mereka berpijak, menghidupi keluarga, dan menyemai harapan? Cinta mereka adalah cinta tindakan, cinta yang bekerja, cinta yang membumi.
Mencintai Indonesia bukanlah tentang kemabukan romantisme buta. Bukan tentang menutup mata pada borok dan luka. Bukan tentang teriak "NKRI Harga Mati" sambil mengabaikan ketidakadilan yang terjadi di dalamnya. Cinta sejati adalah cinta yang kritis. Cinta yang berani menyebut yang salah sebagai salah, yang bobrok sebagai bobrok. Cinta yang menuntut perubahan, menuntut akuntabilitas, menuntut keadilan. Cinta yang tak segan menyuarakan kebenaran, meski suara itu mungkin tak didengar atau bahkan dibungkam. Cinta seperti inilah yang dihidupi oleh para pejuang kemerdekaan, oleh para pemikir kritis seperti Tan Malaka, Soe Hok Gie, atau Pramoedya Ananta Toer. Mereka sangat mencintai Indonesia, hingga pedihnya kekecewaan mereka terhadap ketimpangan dan penindasan justru menjadi bahan bakar perjuangan, bukan alasan untuk berhenti mencintai.
Lelah? Ya, perjuangan itu melelahkan. Melawan arus ketidakadilan, melawan mesin korupsi yang mapan, melawan apatisme, melawan hoax yang meracuni nalar . Itu semua menguras tenaga dan jiwa. Ada saat-saat kita ingin menyerah, memalingkan muka, mengurung diri dalam ketidakpedulian yang nyaman. "Untuk apa?" bisik setan keputusasaan. "Sudahlah, urus dirimu sendiri saja." Di titik inilah kita harus berhenti sejenak, menarik napas dalam, dan mengingat kembali.
Ingatkah kita pada hamparan sawah menghijau berundak di Kajuangin, Bali atau Toraja? Ingatkah pada deburan ombak di Pantai Papuma atau Pasir Putih? Ingatkah pada senyum tulus anak-anak di kampung yang mungkin belum terjamah listrik? Ingatkah pada kekayaan bahasa dan budaya yang beragam, dari Tari Saman yang penuh energi hingga upacara adat yang sakral di pelosok Kalimantan atau Papua? Ingatkah pada semangat gotong royong yang masih hidup ketika tetangga kesusahan? Ingatkah pada rasa nasi padang, soto banjar, rawon, atau bubur manado yang hanya ada di sini, rasa yang membawa kita pulang? Ingatkah pada bait-bait puisi Chairil Anwar atau Rendra yang menyentuh jiwa, pada nada-nada gamelan yang menghanyutkan?
Indonesia bukan hanya pemerintahannya yang sering mengecewakan. Indonesia bukan hanya politisi yang berkoar. Indonesia adalah tanahnya yang subur, lautnya yang kaya, manusianya yang beragam dan gigih, budayanya yang memukau, dan semangatnya yang tak pernah benar-benar padam. Indonesia adalah kita. Setiap warga negaranya yang masih mau berbuat baik, yang masih mau jujur, yang masih mau peduli pada sesama, yang masih percaya pada nilai-nilai luhur Pancasila meski sering dikhianati.
Mencintai Indonesia yang nyata, bukan yang ideal dalam khayalan, berarti menerima bahwa hubungan kita dengan negeri ini adalah hubungan cinta yang rumit, penuh pasang surut, penuh ujian. Ada hari-hari di mana kita bangga, ada hari-hari di mana kita malu. Ada momen haru, ada momen marah. Seperti mencintai seseorang, mencintai negeri membutuhkan komitmen, pengertian, kesabaran, dan yang terpenting, aksi nyata.
Kita boleh kecewa hingga ke tulang sumsum. Biarkan kekecewaan itu mengalir, akui kehadirannya. Kekecewaan adalah petanda bahwa kita masih memiliki api harapan. Tapi jangan biarkan kekecewaan itu berubah menjadi arang keputusasaan yang padam. Ubah kekecewaan itu menjadi energi. Energi untuk tetap kritis, untuk terus menyuarakan kebenaran, untuk memilih pemimpin yang jujur (meski sulit dicari), untuk menolak korupsi mulai dari lingkungan terkecil, untuk mendidik generasi muda dengan nilai-nilai integritas, untuk mendukung UMKM lokal, untuk melestarikan lingkungan, untuk melakukan kebaikan-kebaikan kecil setiap hari yang secara kolektif bisa membawa perubahan besar.
Lelah? Istirahatlah sejenak. Rawat diri. Tapi jangan pernah membiarkan diri lelah mencintai. Karena melelahkan cinta pada Indonesia berarti memutuskan akar kita sendiri. Berarti menyerah pada mereka yang merusaknya. Berarti mengkhianati perjuangan para pendahulu dan mengabaikan harapan anak cucu kita.
Cinta pada Indonesia bukan beban mati, tapi pilihan hidup. Pilihan untuk tetap percaya bahwa di balik kabut kekecewaan, cahaya potensi besar negeri ini masih bersinar. Pilihan untuk terus berjuang, dalam kapasitas masing-masing, membangun Indonesia yang lebih adil, lebih makmur, lebih beradab. Pilihan untuk melihat bukan hanya kekurangannya, tapi juga keindahan dan ketahanannya. Pilihan untuk mengatakan, "Ya, aku kecewa. Tapi negeriku, aku masih di sini. Masih mencintaimu. Masih berjuang untukmu. Karena lelah? Lelah mencintaimu bukanlah sebuah pilihan."
Biarlah kekecewaan menjadi batu asah yang menajamkan tekad kita, bukan batu nisan yang mengubur cinta kita. Maju terus, Indonesia. Kami, dengan segala kecewa dan harap, masih dan akan selalu mencintaimu. Tak pernah lelah.
Ditulis didepan lorong Perumahan Graha Satelit Kota Parepare
Masya Allah Ustadzzz...
ReplyDeleteSangat mengena dibenak saya